Hyang
Girinata pun tak kuat menahan badai berahinya. Dia hanya bisa terpana dan
air kelakiannya memancar seperti permata, jatuh membasahi selembar daun sinom
yang tengah melayang jatuh. Angin masih bertiup kencang dan daun sinom
meliuk-liuk sebelum jatuh di paha Anjani.
(Madirda) *Bahkan para dewa sekalipun!
“Siapa sebenarnya engkau, duhai satria tampan?”
Satria itu tersenyum. “Namaku Ramawijaya. Dan ini adikku
Lesmana. Kami putra Prabu Dasarata ari Ayodya.”
Aku membalas senyumnya dengan seringai. “Oh, rupanya engkaulah
satria pelindung jagat itu. Aku memang sudah ditakdirkan perlaya di tangan
titisan Wisnu. Tapi mengapa engkau memanahku dengan cara seperti ini? Apa
salahku? Mengapa engkau memanahku secara tidak satria? Kalau seorang titisan
dewata yang terkenal itu bertindak demikian tercela, bagaimana orang bisa
membedakan kebajikan dan kejahatan? Lagi pula, aku bertempur dengan adikku
sendiri dengan urusan pribadi. Mengapa engkau turut campur? Serta datang dengan
gelar pasukan tak terkira? Aku tak pernah berpikir melibatkan rakyatku. Aku
berharap bahwa setelah salah satu dari kami kalah, selesai pulalah persoalan.
Tapi kini....”
(Kiskenda) *melanggar batas teritorial
Kuhadapi Rama meski aku tahu bahwa sudah tercatat di garis
takdir aku akan perlaya di ujung Guwawijaya.
(Sang Angkara) *Sikap ksatria seorang Rahwana
Seperti
dua sisi mata uang.
Benar dan salah, baik dan buruk. Keduanya tergantung pada dan
dari sudut pandang mana kita melihatnya. Sebagai manusia, kita mewarisi separuh
sisi syetan dan malaikat. Dalam diri setiap kita tentulah ada sisi baik yang
lengkap dengan sisi buruknya. Karena seperti itulah kesempurnaan manusia.
Manusia lengkap dengan ketidaksempurnaanya.
Kumcer Madirda ini benar-benar menyadarkan saya tentang satu
realita kehidupan, bahwa apa yang kita tangkap sebagai putih itu belum tentu
putih. Demikian juga dengan hitam. Yang terlihat hitam oleh kita belum tentu
benar hitam, percayalah bahwa terkadang pandangan bisa menipu kita. :-)
Dan pada kumcer Madirda ini, kepiawaian Hermawan Aksan dalam
memilih, mengambil, mengolah dan memainkan sudut pandang patut kita acungi
jempol. Dengan rapi, Pak Her (demikian saya memanggil beliau) telah berhasil
menyampaikan pesannya pada pembaca bahwa “tak ada warna putih di atas dunia”
ini.
Selain sudut pandang, yang takkalah mencuri perhatian saya
adalah kelihaian penulis dalam hal penokohan. Karakter setiap tokoh dalam
kumcer ini terasa konsisten meski disorot dari sudut pandang yang berbeda. Kemudian
diksinya. Menakjubkan! Dan cara Pak Her dalam menggambarkan apa yang ada
dibalik keadaan sekitarnya pun cukup mengagumkan. Unik. Seperti ketika terjadi
angin ribut (badai) yang ternyata sebenarnya pada saat itu para dewa tengah
belingsatan karena tidak tahu harus berbuat apa dengan gejolak dada mereka yang
takkuasa melihat pesona yang dipancarkan tubuh Anjani.
. . . .
Karena
itu, biarlah aku mati dengan sepuas hati. Bahwa sebenarnya keangkaraanku yang
terang-terangan tidaklah seberapa dibanding ribuan angkara yang bersaput wajah
brahmana. Aku yakin, yang demikian lebih berbahaya dibanding sekedar angkara
seorang Rahwana.
*Wow! Ini adalah salah satu paragraf yang membangun cerpen Sang
Angkara. Coba kita perhatikan permainan kata-katanya! Mengesankan bukan? Dan tentu
saja masih banyak paragraf lainnya yang bisa membuat kita (para pembaca) merasa
terkesan. Atau bahkan lebih terkesan lagi.
. . . .
Saya rasa buku ini layak untuk dijadikan referensi bagi siapa
saja yang memiliki minat dalam kepenulisan.
Sarat makna dan relatif “matang”. Terutama bagi saya yang masih harus
banyak belajar. Buku ini akan saya jadikan salah satu pegangan. Banyak pelajaran
yang bisa kita dapatkan dari buku ini. Selamat membaca Madirda, Kawan! :-)
Baca juga http://www.skylart-publisher.com/2012/12/madirda-hermawan-aksan.html
Baca juga http://www.skylart-publisher.com/2012/12/madirda-hermawan-aksan.html
Deti Rismayanti
Kamisan FLP Bandung,
28 Februari 2013
