Rabu, 28 Desember 2016

Di Balik Kegagalan



Aku harap performaku di dua hari itu adalah yang terburuk dalam seumur hidup. Semoga takkan ada lagi yang lebih buruk dari itu. 🙈🙈

Pulang dengan perasaan yang entah apa, aku mengadu pada sang guru. Kukatakan aku kecewa pada diri sendiri. Menyadari bahwa aku telah gagal bahkan sejak kutempuhi prosesnya, semua ikhtiar itu aku lakukan agar aku pulang dengan membawa kemenangan. Harapan yang sangat remeh nampaknya. Oh, Allah....

Ketika kukatakan aku ingin jadi juara, beliau tidak terlalu mengaminkan, kurasa. Karena ujarnya "Kemenangan sejati itu adalah ketika Alquran jadi syafaat di akhirat."

Kukatakan betapa aku menyesal, karena apa yang kupersiapkan dengan sebaik yang kubisa tiba2 menjadi tak berarti. 😭😭

Semuanya terjadi ketika aku kembali mengingat niat awal dan usahaku utk itu.
Otakku kalut, berbagai pertanyaan menyergapku dari berbagai arah. Mempertanyakan alasan keberadaanku di sana. Kemudian aku didera gugup yang amat sangat.😨😨

"Lebih gugup lagi di hari kita di hadapan Robbul'aalamiin." tanggapan beliau tak terduga.

JLEB! Aku beku, namun air mata mulai berjatuhan berderai tanpa jeda.

Oh, salahku. Jikalah penilaian Allah saja yang aku tuju. Lalu sang guru menambahkan:

"Ambisi yg nabi ajarkan hanya satu. Surga."
"Lelah kita didunia dunia jangan sampai terulang di akhirat."

Astaghfirullah....
Subhaanaka innii kuntu minazhzhaalimin.

Jika dengan kegagalan ini aku semakin bertaqarrub dan berserah diri pada Nya, tentu kegagalan ini lebih kucintai dan dicintaiNya. Aamiin.

Terima kasih, guru. Allahu yubaarik fiik.
Memandang wajahmu, memotivasiku pada kebaikan,
Mendengar suaramu, membuatku senantiasa mengingat Allah,
Melihat keseharianmu, membuatku ingat akan kampung akhirat.
Syukur tak berhingga, Ia menghadirkanmu dlm hidupku. 😇😇