Rabu, 28 Desember 2016

Di Balik Kegagalan



Aku harap performaku di dua hari itu adalah yang terburuk dalam seumur hidup. Semoga takkan ada lagi yang lebih buruk dari itu. 🙈🙈

Pulang dengan perasaan yang entah apa, aku mengadu pada sang guru. Kukatakan aku kecewa pada diri sendiri. Menyadari bahwa aku telah gagal bahkan sejak kutempuhi prosesnya, semua ikhtiar itu aku lakukan agar aku pulang dengan membawa kemenangan. Harapan yang sangat remeh nampaknya. Oh, Allah....

Ketika kukatakan aku ingin jadi juara, beliau tidak terlalu mengaminkan, kurasa. Karena ujarnya "Kemenangan sejati itu adalah ketika Alquran jadi syafaat di akhirat."

Kukatakan betapa aku menyesal, karena apa yang kupersiapkan dengan sebaik yang kubisa tiba2 menjadi tak berarti. 😭😭

Semuanya terjadi ketika aku kembali mengingat niat awal dan usahaku utk itu.
Otakku kalut, berbagai pertanyaan menyergapku dari berbagai arah. Mempertanyakan alasan keberadaanku di sana. Kemudian aku didera gugup yang amat sangat.😨😨

"Lebih gugup lagi di hari kita di hadapan Robbul'aalamiin." tanggapan beliau tak terduga.

JLEB! Aku beku, namun air mata mulai berjatuhan berderai tanpa jeda.

Oh, salahku. Jikalah penilaian Allah saja yang aku tuju. Lalu sang guru menambahkan:

"Ambisi yg nabi ajarkan hanya satu. Surga."
"Lelah kita didunia dunia jangan sampai terulang di akhirat."

Astaghfirullah....
Subhaanaka innii kuntu minazhzhaalimin.

Jika dengan kegagalan ini aku semakin bertaqarrub dan berserah diri pada Nya, tentu kegagalan ini lebih kucintai dan dicintaiNya. Aamiin.

Terima kasih, guru. Allahu yubaarik fiik.
Memandang wajahmu, memotivasiku pada kebaikan,
Mendengar suaramu, membuatku senantiasa mengingat Allah,
Melihat keseharianmu, membuatku ingat akan kampung akhirat.
Syukur tak berhingga, Ia menghadirkanmu dlm hidupku. 😇😇

Selasa, 17 Mei 2016

Yuk, Ketemu Dia yang Nggak Pernah Kesal Dikepoin!


Oleh: Deti Rismayanti
Malu bertanya sesat di jalan.
Peribahasa di atas telah mendarah daging dalam diriku, seperti mantra yang telah membelenggu laksana kutukan, dan aku pun mempercayainya dengan sepenuh keyakinan.
Alhasil, jadilah aku si bawel yang cerewet dan ketika penasaran tentang suatu hal, aku tidak akan berhenti bertanya sampai aku mendapat jawaban yang memuaskan. Akibatnya banyak yang menjauhi aku karena sering kewalahan menanggapi  pertanyaan yang seperti tak ada habisnya. Tentang apa pun itu. Sehingga jadilah aku seorang yang menyebalkan.
Dan ketika itu terjadi pun aku langsung direcoki pertanyaan yang berasal dari dalam diriku sendiri, tentang kenapa harus kesal jika bertemu orang yang banyak bertanya? Kalau tahu ya jawab, kalau enggak ya udah tinggal suruh nanya ke yang lain aja.
Akhirnya aku pun bertemu dia yang nggak pernah kesal dikepoin. Dia dan teman-temannya selalu tersenyum menyambut siapa pun yang bertanya, lalu memberikan jawaban sebisa mereka.  Dan yang membuat aku sangat menyukainya adalah karena dia tak pernah menolak kapan pun ditanyai, mau itu tengah malam, pagi buta, saat terik maupun hujan lebat, dia selalu tersenyum dan memberikan jawaban terbaiknya. Jawaban yang diberikannya selalu terperinci dan sistematis. Dengan sifatnya yang demikian, apa berlebihan jika aku katakan dia adalah sesuatu yang amat sangat layak dijadikan sahabat yang setia?
Tapi sehebat dan sedahsyat apa pun dia, dia tetap memberiku kendala. Karena butuh pengorbanan dan perjuangan untuk menemuinya apalagi jika ingin memiliknya. Penasaran kan dia seperti apa?
Baiklah, karena aku baik hati, rajin belajar dan suka menabung, aku kasih tahu. Dia yang aku maksud itu adalah...
...
Apa ya....
...
Oke, jangan terkejut ya...! Jadi, dia yang aku maksud itu adalah...
BUKU.
Dan kendala yang sempat aku singgung di atas itu sekarang sudah ditaklukkan oleh Kakak-kakak relawan Lapak Baca. Tepuk tangan untuk Kakak-kakak relawan...! Kasih peluk atau cium juga boleh.... Hehe.... Tapi mesti ijin dulu ya sama Kakak-kakaknya...!
Lalu apa saja kendala yang sudah ditaklukkan Kakak-kakak relawan Lapak Baca itu?
Beberapa di antaranya yaitu, dengan; menyediakan buku-buku untuk dibaca secara gratis di lapak baca, memfasilitasi Adik-adik dan teman-teman yang mau belajar, menghadirkan dongeng-dongeng inspiratif dan menarik, dsb.
Dan untuk adik-adik atau teman-teman yang rumahnya jauh dari Alun-alun Cianjur jangan sedih ya, karena Lapak Baca memiliki program roadshow goes to kampung dengan keliling kampung dalam rangka sosialisasi dan realisasi rencana program Kampung Membaca; Satu Kampung Satu Rumah baca.
Banyak hal menarik yang bisa adik-adik dan teman-teman nikmati di Lapak Baca setiap minggunya. Lokasinya yang berada di dalam Taman Kota, tentu saja menyuguhkan pemandangan yang memanjakan mata, dan waktunya yang dimulai dari Pukul 8.00 s.d 11.00 membuat para pengunjung Lapak Baca menyantap lahap buku-buku bacaan dengan suasana dan kondisi otak yang masih segar.
Aku sangat bersyukur bisa tergabung sebagai relawan dalam kegiatan yang positif ini. Selain bertemu Kakak-kakak relawan yang inspiratif, setiap Minggu aku punya teman baru, bahkan aku sempat bertemu beberapa teman atau kenalan lama yang amat sangat sulit jika menyengaja untuk bersilaturahmi, namun dengan rencana Allah di Lapak Baca kami bertemu begitu saja tanpa janjian atau semacamnya. Mengesankan, bukan?
Jadi tunggu apa lagi? Ayo ke Lapak Baca dan temukan kesanmu!

Salam literasi!

Jumat, 13 Mei 2016

Autumn in Paris (Resensi)


Identitas Buku:
Judul buk        : Autumn in Paris
Penulis            : Ilana Tan
Genre              : Metropop
Bahasa            : Indonesia
Penerbit          : PT Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit   : Cetakan keduabelas, Mei 2010
Tebal               : 272 halaman, 20 cm

ISBN             : 978-979-22-3030-7

Autumn In Paris adalah satu dari novel mega best seller tetralogi seri empat musim. Buah karya dari seorang Ilana Tan yang dikenal sebagai penulis yang misterius, karena dalam setiap novelnya ia tidak pernah mencantumkan identitas pribadinya. 

Novel ini mengisahkan tentang Tara Dupont, seorang gadis blasteran Indo-Prancis yang menguasai tiga bahasa: Indonesia, Inggris, dan Prancis dan bekerja sebagai penyiar di salah satu stasiun radio paling populer di Paris.

Tara Dupont yang sangat menyukai Paris dan musim gugur itu pun bertemu dengan Tatsuya Fujisawa, seorang arsitek dari Jepang yang pada pertemuan pertama sudah membuatnya penasaran setengah mati.

Tatsuya sangat benci paris dan musim gugur. Namun setelah bertemu dengan Tara Dupont perlahan-lahan kesannya pada Paris dan musim gugur pun mulai berubah. Tara Dupont benar-benar telah mengubah dunianya.

Mereka pun saling jatuh cinta. Lalu bagaimanakah laju kisah mereka? Temukan sendiri jawabannya!

Autumn in Paris adalah Novel romantis yang dikemas dengan sangat anggun dengan bahasa ringan yang mudah dipahami. Hal-hal atau adegan-adegan sederhana yang sering kita jumpai dalam keseharian kita, dikemas sedemikian rupa hingga menjadi bagian cerita yang sangat menarik dan menegesankan. Arus ceritanya yang menghanyutkan sangat potensial untuk menyeret pembacanya masuk dan terlibat dalam kisahnya. Dan bisa jadi si Pembaca akan berpikir dialah tokoh utamanya!

Novel ini mengajarkan bagaimana cara menulis novel yang mampu membuat pembacanya menikmati setiap denyut kehidupan setiap tokohnya, yaitu dengan: menghidupkan suasana; mendeskripsikan latar; dan membuat karakter yang kuat.

Dengan segala kelebihan yang dimilikinya, novel ini sangatlah layak untuk dibaca.

Selamat membaca! J


Kamis, 12 Mei 2016

Roti Terlezat di Dunia

Oleh: Deti Rismayanti

Mentari tepat di atas kepala saat aku tiba di taman kota. Teriknya yang menyengat membuat angin seolah mati. Udara pun terasa demikian pekatnya. Aku refleks meringis saat air ludah melewati kerongkongan yang terasa kering kerontang.
Aku duduk dan menyelonjorkan kaki di bawah teduhnya pohon beringin besar yang berada di salah satu sisi taman kota ini. Kurebahkan punggung ke pohon raksasa ini, menikmati betapa lelahnya berjalan sekitar satu kilometer dari bengkel tempat kutinggalkan mobil untuk diperbaiki. Kemacetan yang parah membuatku lebih memilih berjalan kaki.
“Permisi, Mas.”
Aku menoleh ke sumber suara. Seorang lelaki tua tertangkap retinaku. Di tangannya tergantung kantung kresek hitam besar yang entah apa isinya. Namun, segera kuketahui ketika ia mengeluarkan sesuatu dari dalam benda itu.
“Ini, Mas, barangkali Mas berminat,” katanya serupa merajuk.
“Roti?” aku mengernyit.
Yang benar saja! Aku mengumpat dalam hati sambil mengitarkan pandangan. Mataku menyipit saat terik kembali meyilaukan mata. Jika saja lelaki tua itu menawariku minuman dingin, aku akan sangat menghargainya.
Seperti tidak menyadari keterusikanku, lelaki tua itu pun masih menyunggingkan senyum yang sebetulnya sama sekali tak menarik untuk dilihat. Ya, menurut pandanganku, tentu saja. Kulirik lelaki tua itu sekilas melalui ekor mata.
Bunyi kresek-kresek yang ditimbulkannya semakin membuatku ingin menghardik dan menyemburkan kemurkaan padanya. Sesuatu memaksaku menoleh meski sebetulnya aku enggan. Seolah tak merasakan kekesalanku, tangan gemetar lelaki tua itu meraih salah satu roti yang plastik kemasannya menempel dengan isinya. Lepek. Masih dengan tangan gemetar tangan keriput lelaki tua menyobek bungkusnya, mengeluarkan isinya, kemudian membaginya menjadi dua bagian.
“Ini, Mas, dicoba dulu. Gratis.” Lelaki tua itu menyodorkan sepotong rotinya padaku.
Aku menolak perlahan. Mengupayakan diriku agar tetap bersikap sopan padanya.
“Dicoba dulu, Mas. Enak. Saya yang jamin.” Lelaki tua itu terkekeh sendiri.
Setitik rasa iba hinggap di hatiku. Barangkali dengan mencicipi rotinya, lelaki tua ini akan puas dan segera hengkang dari hadapanku.
Aku mengambil sepotong roti itu dengan ragu. Oh, sial! Roti apa pula ini? Umpatku dalam hati.
Dengan senyum yang terus terpampang di wajah polosnya, lelaki tua itu terus memelototiku saat aku memutar-mutar roti yang sama sekali enggan kutelan walau secuil.
Diam-diam kucium aroma rotinya sambil pura-pura kudekatkan ke mulut dengan harapan sedetik saja dia berpaling dari memandangiku. Ternyata nihil, lelaki tua itu justru semakin lekat memandangiku, hingga akhirnya aku terpaksa menggigit rotinya. Ya Tuhan..., apa lelaki tua itu yakin roti ini untuk dimakan?
“Lagi, Mas. Ayo rotinya dihabiskan!” seru lelaki tua itu dengan mata berbinar.
Sial! Pandai sekali lelaki tua ini mempermainkanku. Dia membuatku merasa muak dan kasihan padanya pada saat bersamaan. Manik matanya membuatku semakin iba. Dan sekarang kulihat pelupuk matanya basah. Apa lagi ini?
“Lho, kenapa nangis, Pak?” tanyaku spontan saat beberapa butir air mata meluncur membasahi wajahnya yang keriput.
Sambil terisak, lelaki tua itu berkata, “Roti-roti ini istri saya yang buat, Mas. Dan setiap hari hanya roti-roti inilah yang kami makan...,” katanya sedih dengan suara berat.
Rasanya ingin sekali aku bilang: Terserah ya, Pak, roti ini bikinan istri Bapak atau siapa pun. Apa hubungannya dengan saya? Untungnya kalimat tersebut mampu kupenjarakan. Aku memilih untuk tidak memberikan komentar apapun, dan rupanya lelaki tua itu masih berniat melanjutkan kalimatnya.
“Seumur hidup, saya belum pernah merasakan roti yang lebih lezat dari roti buatan istri saya. Dan saya merasa bahagia bisa makan roti lezat buatannya setiap hari.”
Kali ini aku terpaksa menaikkan kedua sudut bibir untuk menunjukkan rasa simpatikku.
“Roti ini Bapak jual berapa?” tanyaku sekenanya. Mungkin lelaki tua itu akan pergi setelah aku membeli roti kebanggaannya tersebut. Jika perlu aku tidak keberatan memborongnya, yang penting lelaki itu menghilang dari pandanganku secepatnya dan membiarkanku beristirahat sebentar saja sebelum aku kembali melanjutkan pekerjaanku.
Tapi anehnya lelaki tua itu malah menggeleng lemah.
“Kenapa, Pak?” tanyaku bingung.
“Rotinya tidak dijual,” jawabnya singkat.
“Lho, bukannya Bapak lagi jualan roti?”
“Iya, tapi sekarang saya tidak akan menjualnya ke Mas.”
“Kok begitu? Saya kan mau beli.” Aku mengernyit tak mengerti.
“Bukannya tadi Mas nggak mau beli?”
“Siapa bilang? Saya mau beli kok! Semuanya!”
Lelaki tua itu tampak tak percaya.
“Semuanya?”
“Ya! Semuanya.”
“Untuk apa, Mas? Saya kasih Mas sepotong aja Masnya nggak mau makan. Sekarang Mas bilang mau beli semuanya. Untuk apa?” lelaki tua itu menatapku dengan ekpresi yang tak bisa kumengerti.
“Oh, itu..., yaaa, karena saya belum lapar.” Jawabku sekenanya.
“Kalau begitu belinya nanti saja, kalau Masnya sudah lapar.”
“Nanti saya makan rotinya kalau saya lapar.”
“Memangnya Mas kapan laparnya?”
“Ya saya juga ngga tahu.”
“Kalau gitu, saya akan tunggu Mas lapar dulu, setelah itu baru saya akan jual roti saya ke Mas.”
Payah! Kenapa juga aku meladeni lelaki tua ini. Aku mengasihani sekaligus menertawai diriku sendiri. Aku melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kiriku sekilas.
“Maaf ya, Pak. Saya duluan,” kataku pamit sebagai formalitas.
Aku tak mengharapkan konfirmasi apapun dari lelaki tua itu. Aku bangkit dan beranjak meninggalkan lelaki tua itu di belakangku.
Aku baru saja hendak menarik napas lega, tapi urung saat lelaki tua itu tiba-tiba menjejeriku. Aku terhenyak sesaat. Namun sepertinya aku harus kembali pasrah dan menyerah pada kegigihan lelaki tua yang satu ini.
“O ya, Mas, Masnya pasti nggak tau kan kalau istri saya itu jago banget bikin roti. Sudah ahlinya.” Cerocos lelaki tua itu mantap dan penuh percaya diri.
“O Ya?” sahutku enggan.
“Iya, Mas.” Angguknya cepat dan penuh semangat. Aku sempat ngeri, khawatir kepala lelaki tua itu akan terlepas dari batang lehernya.
“Sebentar, Mas. Mas ini sebetulnya mau ke mana?” tanyanya sambil berhenti di depanku. Kepo kalau istilah anak muda sekarang.
“Mau ke tempat kerja, Pak,” kataku datar.
“Oh..., jadi saya ganggu Mas dong ya?” katanya dengan nada menyesal.
“Duh, maaf ya Mas. Saya nggak bermaksud...,” lanjutnya murung.
“Nggak apa-apa, Pak. Santai kok,” jawabku lebih manis.
Sebongkah sesal menyesaki dada saat kulihat lelaki tua itu melunglai dan merasa tak enak hati padaku. Perlahan aku mulai membuka hati dan menikmati percakapan kami. Diam-diam aku berterimakasih pada lelaki tua itu, karena telah bersabar menghadapi sikap dinginku dan bersedia menjadi teman bicara selama berjalan menuju tempat usahaku.
“Sudah lama jualan?” tanyaku kemudian, lebih santai. Kembali pada nada bicaraku yang biasa. Aku benar-benar menyesal sempat kesal pada lelaki tua itu. Tak seharusnya aku begitu.
“Lumayan, Mas. Boleh saya cerita?”
“Ya, tentu boleh.” Aku tersenyum antusias.
Lelaki tua itu mengulum senyum dan memuali ceritanya, “Dulu, waktu pertama kali tiba di kota ini, saya kehabisan bekal. Selama dua hari hanya minum air kran di masjid-masjid. Saya nyaris pingsan karena lemas. Waktu itu saya terus nyari-nyari kerjaan tapi belum ada yang nerima. Dan saya lebih memilih kelaparan dari pada harus ngemis. Syukur pada Tuhan, seorang gadis muncul dan menawari saya roti.”
Lelaki tua menerawang sambil terus mengembangkan senyum. Lalu lelaki tua itu menatap ke arahku dan melanjutkan ceritanya.
“Saya melahap roti pemberiannya dengan sangat gembira, dan gadis itu membantu saya membukakan bungkus rotinya, berkali-kali, sampai-sampai kami tak sempat menghitung berapa banyak roti yang habis saya makan saat itu. Dan gadis itu memang menolak untuk menghitungnya. Setelah menghabiskan sekian banyak rotinya itu, akhirnya saya pun kembali bertenaga. Dan sebagai rasa terimakasih saya memutuskan untuk membantunya menjual roti-rotinya. Saya sangat terkesan oleh kebaikan hatinya dan saya merasa telah menjadi manusia paling beruntung di dunia, karena setiap hari saya bisa menikmati roti lezat buatannya secara cuma-cuma.” Lelaki tua itu tersenyum bangga dengan mata berkaca-kaca.
Ah, lelaki tua itu pandai juga membuat orang terharu. Aku memalingkan wajah sebentar untuk mengusap ujung mataku yang berair.
“Lalu, Bapak jatuh cinta pada gadis itu?” tanyaku sambil tersenyum menatapnya.
Ini sedikit menggelikan, tapi lihatlah bagaimana lelaki tua itu tersipu.
“Iya, Mas. Sangat.” Akunya malu-malu.
“Jatuh cinta pada si gadis atau rotinya?” tanyaku mencandai.
Suaranya melembut saat menjawab, “Saya jatuh cinta pada kemurahan hatinya, Mas....”
            Lelaki tua itu ikut berhenti saat aku berhenti melangkah. Kuikuti arah pandangannya saat lelaki tua itu mengitarkan pandangan, melahap hiruk pikuk jalanan ibu kota dengan bola matanya. Gedung-gedung pertokoan berjejer di sepanjang jalan ini, papan iklan dan reklame terpampang di sejauh mata memandang, lalu lalang para pejalan kaki terlihat memenuhi setiap trotoar di daerah ini. Lalu pandangan lelaki tua itu berakhir padaku.
            “Kenapa berhenti, Mas?” tanyanya kebingungan.
            “Saya udah sampai.” Aku mengangkat bahu sekilas.
            Lelaki tua itu kembali mengitarkan pandangan, dan kali ini pandangannya berhenti pada sebuah tulisan yang tercetak tebal di tembok bangunan yang berdiri tepat di belakang kami.
             R & D Bakery
          Baru sekali ini aku beretemu dan berbincang dengan lelaki tua itu. Tentu saja kami masih asing satu sama lain, sehingga mungkin orang-orang akan heran melihat sikapku sekarang.
“Masuk dulu yuk!” Ajakku. 
 Lelaki tua itu masih mematung di tempanya berdiri, tengadah mengamati merk toko tersebut. Hatiku gerimis. Lelaki tua itu tiba-tiba saja mengingatkanku pada mendiang Ayah.
Aku menggamit sikut lelaki tua itu dan bermaksud membawanya masuk ke toko roti milikku. Namun lelaki itu malah menahanku.
“Mas...,” tiba-tiba suara berat lelaki tua itu gemetar.
“Kenapa, Pak? Saya lapar, dan Bapak janji akan menjual rotinya ketika saya lapar. Ya kan?” aku merajuk sambil memegangi perutku dengan sebelah tangan.
Entah kenapa lelaki tua seperti enggan menerima ajakanku.
“Saya nggak pantas, Mas, masuk ke toko semewah ini. Ini istana, Mas. Gak sembarang orang bisa masuk.” lelaki tua itu menunduk menatap dirinya.
Ya. Pakaian yang dikenakan lelaki tua itu memang sudah sangat lusuh, dan sandal jepit yang dikenakannya pun sudah buruk rupa, tapi aku rasa itu bukan masalah. Selama tidak memiliki niat jahat, semua orang berhak masuk ke tokoku, termasuk lelaki tua itu.
“Bapak temani saya makan di dalam ya?” aku sedikit memaksa.
Aku mendorong pintu toko ke arah dalam. Begitu kami berada di dalam, kesejukan langsung menyambut kami. Lelaki tua itu makin melongo. Tubuhnya seperti robot saja saat menuruti ke mana pun aku membawanya sementara kulihat otak lelaki tua itu seolah tengah berhenti bekerja.
“Pak? Bapak mau pesan apa?” tanyaku yang ketiga kalinya.
“Ah..., kenapa Mas?” sahutnya sambil mengerjap. Otak lelaki tua itu sudah bekerja normal lagi tampaknya.
Aku tersenyum dan mengulangi pertanyaanku. Yang keempat kalinya.
“Nggak usah, Mas. Roti di sini harganya mahal-mahal.” jawabnya kemudian.
“Nggak, apa-apa, Pak. Saya yang traktir.” Aku meyakinkan.
“Kenapa nggak makan roti saya aja, Mas? Harga termurah untuk sepotong roti di sini masih bisa untuk membeli selusin roti saya,” katanya sungguh-sungguh.
“Nggak apa-apa, Pak. Soalnya roti yang saya beli dari bapak mau saya bawa pulang. Saya akan memakannya nanti bersama anak dan istri saya.” Aku mengarang cerita.
Akhirnya lelaki tua itu pun menyerah. Setelah membacakan pesanan kami pada penjaga kasir yang tak lain adalah bawahanku, aku mengajak lelaki tua itu naik ke lantai atas, ke ruang paling istimewa yang biasa di pesan oleh tamu-tamu khusus. Kubiarkan lelaki tua itu memilih tempat duduknya sendiri, lalu tubuh ringkih itu pun memutuskan untuk duduk di sofa berlengan yang berada di dekat jendela kaca yang besar yang menghadap langsung ke pusat kota.
Sambil menunggu pesanan kami datang, lelaki tua itu pun kembali memulai kelanjutan cerita sebelumnya. Aku langsung bersidekap bersiap menyimaknya.
“Dulu, saat masih muda. Saya dan istri saya sering duduk di emperan istana roti ini. menikmati lezatnya aroma roti-roti yang berasal dari istana ini sambil meneteskan air liur. Lalu kami menyantap roti kami sambil menghirup aroma roti yang kerap menyeruak ke luar saat orang-orang keluar masuk toko ini melewati pintu tadi. Kelezatan roti kami pun menjadi berlipat-lipat. Sebelum pulang kami selalu menyempatkan diri untuk memandangi roti-roti beraneka bentuk yang terpajang di etalase itu sambil berkhayal, suatu hari nanti kami berada di dalamnya, duduk di kursi empuk sambil menikmati segelas kopi susu sambil mencicipi roti yang beraneka bentuk itu walaupun kami hanya mampu membayar sepotong saja untuk kami nikmati berdua.” Lelaki tua itu tampaknya tengah asik bernostalgia.
Aku menyimaknya sambil mengulum senyum.
“Saya baru tahu ada ruangan khusus seperti ini di dalam istana roti ini. Andai istri saya melihat ini, dia pasti terlonjak kegirangan.” Lelaki tua itu berdecak kagum.
“Besok, kita ajak istri Bapak ya?” aku senang melihat lelaki tua itu semringah.
Lelaki tua itu hanya menggeleng.
“Sebetulnya saya masih perlu memastikan Mas nggak akan buang roti-roti saya ke tempat sampah.” Lelaki tua itu menghindari pertanyaanku.
“Baiklah, sekarang saya akan makan rotinya. Dan... itu pesanan kita sudah datang!”
“Ada lagi, Pak?” tanya seorang pelayan padaku.
“Ini cukup, makasih.” Jawabku sopan, lalu mengijinkannya kembali bekerja.
Aku mempersilakakan lelaki tua itu menikmati hangatnya gingger coffee dan roti andalan kami.
Lelaki tua itu menyodorkan sekantung kresek roti kebanggaannya padaku. Aku membuka kresek hitam itu lebih lebar dan mengambil satu dari dalamnya. Dengan enggan kubuka pembungkusnya dan kudekatkan ke mulut dengan sangat terpaksa. Aromanya bukan hanya tak sebanding dengan aroma roti-rotiku, tapi lebih buruk dari itu. Aku menahan mual untuk menghargai perasaan lelaki tua itu.
Aku menggigitnya sedikit dan mendesaknya untuk melewati kerongkonganku sesegera mungkin. Sementara di seberang sana kusaksikan lelaki itu mencicipi roti andalanku dengan mata basah, membuat gerakan tanganku di cangkir kopi cappuchinno-ku tertahan.
“Lho? Kenapa? Bapak nggak suka makan roti saya?” tanyaku penasaran bercampur khawatir.
Lelaki tua itu hanya menggeleng lemah.
“Saya merasa sudah berkhianat pada mendiang istri saya, Mas, dulu dia yang paling berharap bisa mencicipi bagaimana lezatnya roti beraroma surga ini.”
 Lelaki tua itu tertunduk kian dalam dengan bahu berguncang. Ya lelaki tua itu menangis sesenggukan. Aku hendak menghiburnya sampai sesuatu membuatku tersentak.
“Mendiang?” aku refleks mendorong meja di depanku, takkuasa mengendalikan keterkejutanku.
Lelaki tua itu masih dalam posisinya.
“Iya, Mas, istri saya baru saja meninggal seminggu lalu. Orang bilang dia kena TBC.”
Sebongkah sesak memenuhi rongga dadaku. Selain terseret ke dalam duka kehilangan yang memilukan lelaki tua itu, ingatanku kembali pada segigit roti yang baru saja melewati kerongkonganku. Aku limbung.

SELESAI


Ini adalah cerpen saya edit kembali setelah sebelumnya pernah dimuat dalam antologi cerpen anggota FLP Bandung dengan judul buku "Umrah & Roti Terlezat di Dunia" yang diterbitkan oleh penerbit indie Leutikaprio pada tahun 2014.
Cover buku:







           




Rabu, 11 Mei 2016

Secangkir Kopi Terakhir


Oleh: Deti Rismayanti
Sejak bergabung bersama keluargaku di meja makan, entah sudah keberapa kali aku mencuri-curi pandang Aqeela, gadis yang duduk berseberangan denganku. Posisi duduknya berahadapan langsung denganku.
Berbeda dengan sikap gadis itu yang tampak gembira saat Ibu mengenalkan aku sebagai kakaknya, sejak dulu aku tak pernah suka gadis itu. Atau lebih tepatnya aku marah dan membenci fakta bahwa gadis itu telah menjadi adikku.
Ibu gadis itu adalah sahabat lama Ibu, pada suatu hari mereka kembali dipertemukan di tempat dan dalam situasi yang tidak bisa dikatakan baik. Saat itu mereka kembali bertemu di rumah sakit, saat ibu gadis itu dilarikan ke sana dalam kondisi berlumuran darah dan tak sadarkan diri akibat sebuah kecelakaan lalu lintas.
Ternyata sahabat lama Ibu itu tengah hamil tua. Lalu dibawalah beliau ke dalam ruang operasi untuk dilakukan proses persalinan secara caesar secepatnya. Dan mimpi buruk pun menjelma realita, sahabat lama ibuku itu telah meraih syahidnya setelah menghadiahi bumi dengan lahirnya seorang putri yang kemudian kuketahui bernama Aqeela. Ya, setidaknya menurut ayahnya, bayi itu adalah anugerah. Hadiah dari Tuhan untuknya. 
Sementara itu, Ibu masih dalam masa berduka karena baru beberapa hari kehilangan Noura, adik perempuanku yang terlahir prematur dengan kondisi yang sangat lemah, sehingga Allah kembali mengambil bayi malang itu kembali ke pangkuanNya.
Meskipun mustahil jika Ibu mensyukuri kematian sahabatnya, tapi aku melihat dengan jelas kebahagiaan yang terpancar di wajah Ibu saat ayah gadis itu mengizinkan Ibu menyusui Aqeela sampai bayi itu berusia dua tahun. Sementara aku kala itu hanya bisa marah dan cemburu, aku tidak ingin adik mana pun, Noura atau Aqeela. Aku tak mau ada mereka dalam hidupku, karena aku tak ingin membagi cinta dan kasih sayang kedua orang tuaku dengan siapa pun.
“Pokoknya aku nggak mau punya adik!” teriakku kala itu, saat Aqeela dan ayahnya menginap di rumahku.
Aku pikir sejak itulah aku membencinya, bahkan hingga sekarang. Dan bukan hanya gadis itu, aku pun sempat marah dan membenci kedua orangtuaku, karena mereka tak peduli bagaimana perasaanku. Dulu atau pun sekarang.
“Kok nggak dimakan si, A?” tegur Aqeela tiba-tiba. Menyentakkanku  kembali ke masa kini.
“Eh?” sahutku terkejut.
“Masakanku nggak enak ya?” tanya gadis itu dengan ekpresi kecewa.
Aku memandang Ayah dan Ibu secara bergantian, penasaran dengan ekspresi wajah mereka.
“Aqeela udah kerja keras lho, masakin ini buat kita.”
Seperti biasanya, Ibu selalu di pihak gadis itu. Ayah hanya tersenyum.
“Enak kok! Hanya saja aku belum lapar.” Aku sengaja mengatakannya untuk menghibur Ibu. Kalau gitu, aku duluan ya? Masih ada kerjaan.”
Aku bangkit meninggalkan meja makan, menaiki anak tangga menuju kamar. Berada di meja makan yang sama dengan gadis itu membuat nafsu makanku menguap begitu saja.
***
Begitu mendengar gadis itu kuliah di kampus yang jaraknya dekat dengan rumah kami, Ibu mengajak gadis itu untuk tinggal bersama kami sebagai keluarga. Berbeda denganku, kedua orangtuaku sangat menyukainya bahkan mencintainya seperti anak kandung mereka sendiri.
Sudah tengah malam, harusnya saat ini aku sudah tenggelam dalam dunia mimpi, tapi faktanya, sekarang aku sama sekali tak bisa membujuk mataku untuk terpejam. Sepertinya itu karena aku lapar. Baiklah, aku sudah tak tahan lagi, dan aku bukan tipe orang yang bisa tidur dalam kondisi lapar.
Aku keluar dari kamar, menuruni tangga dan belok ke ruang makan. Mencari tau apakah ada makanan yang bisa kumakan. Sialnya taka ada apa pun di meja makan. Ketika aku berbalik hendak kembali ke kamar, tubuhku menabrak sesuatu yang secara refleks meneriakkan kalimat istighfar.
“A Fiqli? Ngapain, A? Laper ya?” katanya sambil menekan dada.
Ternyata gadis cerewet itulah yang baru saja bertabrakan denganku.
“Makanan yang tadi udah abis, A. Ayah sama Ibu bilang masakanku enak banget, jadi langsung habis.”  
Lihatlah bagaimana gadis itu menyebut orangtuaku Ayah dan Ibu. Gadis itu mengatakannya dengan lancar seolah dia benar-benar putri mereka.
“Hm…, gimana kalau aku buatkan mi instan aja? Biar cepat? Atau Aa mau aku masakin yang lain? Aa mau aku masakin apa?” pertanyaannya bertubi-tubi. Membuat kepalaku pening. Dasar gadis sok akrab!
“Nggak usah, aku ke sini cuma mau ambil minum kok,” ketusku.
Aku meraih sebuah gelas, kemudian mengisinya dengan air putih. Saat aku nyaris mendekati pintu tiba-tiba aku merasa dikhianati labungkun sendiri. Sebuah keributan yang berasal dari perutku terdengar nyaring di tengah heningnya malam.
Aku yakin gadis sok akrab itu mendengarnya juga, tapi aku tidak ingin memastikan apa pun. Kuayunkan langkah lebih cepat, berjalan kembali ke kamar.
Apa aku malu? Sepertinya ya. Sedikit. Tapi tak apa. Lagipula aku tak pernah peduli apa yang dipikirkannya tentangku.
Aku memaksakan diri untuk tidur, namun keributan di perutku kian memecah sunyi. Tiba-tiba aku mendengar pintu kamarku diketuk.
Ternyata gadis itu.
“Ini, A. Aku bawain teh chamomile sama roti bakar ala chef Aqeela. Bekas makannya Aa simpan sendiri ke dapur ya…! Aku udah mau tidur. Bon appetite!” katanya sambil menyodorkan nampan kecil berisi menu yang disebutkannya.
Dia berjalan menjauhi kamarku. Aku masih berdiri di ambang pintu kamar sambil memegang nampan tersebut dengan kedua tangan. Tanpa sadar aku terus memperhatikannya berjalan membelakangiku. Namun tiba-tiba ia menghentikan langkah dan memutar tubuhnya perlahan dan menatapku, lalu tersenyum.
“Met malem ya, assalaamu’alaykum,” katanya sambil melambaikan tangan kanan yang diangkatnya setinggi bahu.    
Ia kembali membalikkan badan dan melangkah menuju kamarnya yang berada di dekat tangga. Posisi kamarnya di arah pukul tiga dari kamarku.
Tiba-tiba sebuah perasaan aneh menyelinap ke dalam hatiku. Sepertinya kebencianku padanya adalah sebuah kesalahan. Gadis itu tampak tulus, kenapa aku harus membencinya? Aku rasa ketulusannya telah berhasil melunakkan hatiku yang batu.
***
Pagi ini aku terbangun dengan perasaan yang lebih lapang. Ketulusan gadis itu tampaknya benar-benar telah berhasil meruntuhkan benteng keangkuhan yang selama ini membuatku buta untuk melihat ketulusannya.
“A, aku udah nyiapin sarapan di meja makan. Sarapan dulu yuk!” suara jernih gadis itu terdengar di balik daun pintu kamarku.
Biasanya suara itu selalu membuat pagiku terasa buruk, namun hari ini lain. Tak seperti biasanya, suara itu mulai terdengar nyaman di telingaku. Bahkan terdengar seperti kicauan burung yang menyemarakkan indahnya pagi di pedesaan yang damai dan sejahtera. Begitu riang dan penuh semangat.
Sepertinya mulai sekarang aku akan merindukan suara ini setiap pagi. Aku tidak bisa mencegah diriku untuk tidak tersenyum.
Aku bergegas membuka pintu kamar. Ragu-ragu gadis itu melongok ke dalam kamar melewati pundakku. Lalu ia menyunggingkan sebuah senyum yang gagal kuterjemahkan. Bibir mungilnya membentuk sebuah lengkungan bulan sabit yang sebelumnya selalu membuatku makin membencinya. Dan satu keanehan lainnya lagi, tak lagi benci, kali ini aku melihat hal itu sebagai pemandangan yang indah. Khususnya di pagi ini.
“Ayah dan Ibu udah nunggu kita di meja makan,” katanya riang.
Gadis itu melangkah lebih dulu, membiarkanku mengikuti langkah-langkah kaki kecilnya yang jenjang dari belakang.
“Fiqli, hari ini Ibu sama Ayah mau ke rumah Nenek. Kamu baik-baik ya sama Aqeela. Jagain adiknya! Ibu harap kamu nggak jutekin Aqeela terus. Emangnya kamu nggak sayang sama adik kamu?” tutur Ibu setelah menelan makanan yang sempat memenuhi setengah rongga mulutnya. Beliau menyampaikan pesan yang membuatku bingung harus memberikan tanggapan seperti apa.
“Aqeela, kamu gak apa-apa kan Ibu tinggal dulu? Nanti kamu mau Ibu belikan oleh-oleh apa?”
Nada bicara Ibu pada gadis itu selalu lebih lembut dari nada bicaranya saat sedang bicara padaku.
“Gak apa-apa kok, Bu. Salam ya buat keluarga di sana. Aqeela gak minta oleh-oleh apa-apa. Yang penting Ibu sama Ayah kembali dengan selamat.” Gadis itu tersenyum hangat pada ibuku.
“Maa syaa, Allah…! Putri Ibu memang shalihah.” Ibu menggenggam tangan Aqeela sepenuh rasa.
Dan aku tak lagi cemburu.
“Aku berangkat!” aku bangkit dari dudukku.
“Kopinya belum diminum?” Gadis itu menunjuk secangkir kopi tanpa ampas yang berada di sebelah piring makanku.
Aku melirik Ayah dan Ibu bergantian, lalu mengikuti arah telunjuknya, menatap secangkir kopi yang aromanya menggelitik cuping hidungku.
Aku menyesap isinya perlahan, menikmati cita rasa dan aroma kopi yang begitu pas dengan seleraku.
Tak terasa secangkir kopi itu telah melewati kerongkonganku dengan bebas hambatan.
“Alhamdulillah…! Aku seneng Aa suka kopi yang aku bikin!” seru gadis itu riang.
“Selamat berangkat kerja…! Pulang cepat yaaa!” cerocos gadis itu dengan riang.
Tiba-tiba aku merasa wajahku memanas. Aku kembali menatap Ayah dan Ibu, kali ini dengan perasaan salah tingkah. Mereka tersenyum penuh arti.
Sepertinya menjadi kakak Aqeela bukanlah sesuatu yang buruk. Perlahan aku mulai mensyukurinya, dan aku merasa pagi ini adalah salah satu pagi terbaik dalam hidupku. Dia membuat langit hatiku begitu cerah pagi ini.
***
Saat aku kembali ke rumah, listrik di komplek rumah kami padam. Seperti tidak ada siapa-siapa di rumah. Apa Aqeela sedang ke luar? Aku membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu kubawa. Begitu aku memasuki rumah, ketiadaan sumber cahaya membuatku tak bisa melihat apa pun. Setelah mengunci pintu kembali, aku berjalan pelan dengan mengandalkan bantuan penerangan dari ponselku. Aku bergerak langsung menuju kamar.
Ketika sampai di ujung tangga, sebuah suara memaksaku untuk menghentikan langkah sejenak. Aku mendengar seseorang menangis. Aku yakin suara itu berasal dari kamar Aqeela.
Aku mengetuk pintu kamarnya. Ingin memastikan.
“Aqeela, kamu di dalam?” tanyaku dari balik pintu kamarnya.
“A Fiqli?” suara tangis itu berhenti.
“Kamu kenapa?” tanyaku cepat. Aku tak bisa menahan diriku untuk tidak khawatir.
Aku mendengar suara kunci terbuka dari dalam lalu gadis itu menabrakkan dirinya ke tubuhku.
“Aku takut, A…!” Gadis itu menangis dalam pelukanku
Aku terkejut bukan main, tapi aku berusaha untuk menguasai diriku dan mencoba untuk bersikap tenang. Aku melingkarkan sebelah tanganku ke bawah pundaknya dan menepuk-nepuknya pelan, berusaha membuatnya tenang.
Aku tak tahu apa yang membuat gadis ini sedemikian takut, yang aku tahu sekujur tubuh gadis ini bergemetar dahsyat. Aku menyentuh kepalanya yang menempel ke dadaku.
Jujur, aku terkejut dengan tindakanku sendiri. Yang aku tahu, aku sangat ingin melindunginya. Itu saja.
***
 Setelah aku menyelesaikan pekerjaan di kantor, hari ini aku pulang cepat. Khawatir listrik di rumah kami tiba-tiba padam lagi dan Aqeela hanya sendirian di rumah, tapi untunglah semua baik-baik saja. 
 “Jadi, kenapa kamu takut banget sama gelap?” pertanyaanku di sela percakapan kami malam ini.

  • Aqeela mengalihkan pandangannya dari TV, lalu menoleh ke arahku yang duduk di sebelah sofa yang didudukinya. 
“Oh, Itu.” Wajahnya terlihat serius.
“Hm…” aku menunggunya menjelaskan.
“Waktu kecil aku takut banget sama hantu yang suka muncul di waktu gelap, seperti yang ada di film-film.” Jawabnya dengan wajah serius.
Aku tak bisa menahan diriku untuk tidak tertawa.
“Udah puas ketawanya?” gadis itu mendengus sambil menyilangkan tangan di dadanya.
Aku hanya mengangguk ringan saat mata gadis itu membulat. Mungkin gadis itu bermaksud mengintimidasi, tapi wajahnya justru malah terlihat lucu.
“Maaf, maaf, aku nggak bermaksud ngetawain kamu kok. Tadi tiba-tiba aja aku ingat film komedi yang pernah aku tonton.” Aku terpaksa membuat alasan palsu. Tak ingin membuatnya tersinggung.
“Tapi aku udah nggak takut lagi kok sama hantu. Di dunia ini kan nggak ada hantu.” Lanjutnya kemudian.
Aku mendapati diriku melebarkan senyum. Antusias mendengarkannya bercerita.
Lebih dari itu, sekarang aku takut sama monster berkedok manusia yang suka melakukan kejahatan di saat gelap.” Sepertinya bulu kuduk gadis itu meremang saat mengatakannya.
“Setiap hari ada saja berita pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, dan berbagai kejahatan lainnya. Dan setiap kali gelap, apalagi kalau aku sendirian, aku selalu dihantui ketakutan yang amat sangat. Aku takut ancaman berbagai tindak kejahatan itu sedang mengintaiku. Itu aja.” Gadis itu menyelesaikan ceritanya dengan wajah kuyu.
Aku bangkit dari dudukku, mengulurkan sebelah tangan. Aku bermaksud mengajaknya pergi ke balkon. Ternyata gadis itu menyambut uluran tanganku dan mengikutiku berjalan ke luar menuju balkon.
“Kamu lihat, bintangnya banyak banget kan?” tanyaku sambil menunjuk ke langit yang dipenuhi kerlap kerlip bebintang.
Kulihat ia sedikit menyipitkan mata saat semilir angin dengan lembut menyapu wajahnya.
“Hm...,” gumamnya pelan sambil menatap ke kejauhan.
“Aku suka banget liat bintang.” Akunya mantap.
“Dan makin gelap langit itu, binar gemintang pun akan semakin indah. Dan sebetulnya masih ada banyak lagi keindahan lain yang bisa kita nikmati saat gelap. Kunang-kunang dan kembang api, misalnya.” Aku memandang wajahnya lebih lekat.   
Dia tak langsung merespons. Hening menyela pembicaraan kami. Kulihat gadis itu tertunduk dalam.
“Aku rasa mulai sekarang aku nggak akan takut lagi sama gelap, tapi kabar buruknya adalah...” gadis itu menundukkan wajahnya
Aku bersabar menunggunya menuntaskan kalimatnya.
 “Aku yakin nggak akan takut gelap lagi, tapi masalahnya, sekarang aku harus menghadapi ketakutan yang lebih besar.”
Gadis itu melepaskan tanggannya yang ternyata masih ada dalam genggamanku.
Aku menangkap sesuatu yang aneh dari ucapannya. Kuperhatikan dia memutar badannya membelakangiku dan berjalan sendiri ke dalam rumah tanpa sedikit pun menoleh ke arahku. Aku mengikutinya tanpa banyak bertanya.
“Aku masuk dulu ya? Met istirahat ya, A!” Aqeela melambaikan tangan tepat di depan wajahku. Wajahnya terlihat ragu.
Sekarang aku yang tak langsung merespons. Sesuatu dalam kepalaku meminta untuk dipertimbangkan.
Sesaat setelah Aqeela membalik badan, aku menarik sikut gadis itu dan membuat posisi kami kembali berhadapan.
“Aqeela.” Aku menatap ke dalam bola matanya.
“Mulai dari sekarang aku akan berusaha jadi kakak terbaik untukmu.” Aku bersungguh-sungguh.
Aqeela mengernyit sambil menatap ke dalam mataku. Aku merasa ada yang tak beres dengan sorot mata gadis itu.
Gadis itu masih menatap ke dalam mataku. Aku tak kuasa lagi mengendalikan diriku agar tak melakukan ini. Sebuah kecupan kudaratkan di keningnya yang mulus.
“Sekarang tidurlah! Besok kamu harus kuliah kan?”
Kulihat Aqeela terbelalak. Aku salah tingkah dibuatnya. Lalu aku meniup sepasang mata yang agak sipit itu secara spontan.
“Jangat melototin aku kayak gitu! Aku gemas melihatnya,” kataku salah tingkah.
“Astaghfullah...!” gadis itu terperanjat dan mundur selangkah. Suaranya terdengar aneh di telingaku.
Gadis itu menatapku tepat di manik mata. Ada nada tidak suka yang begitu kentara dari tekanan suaranya. “Kita ini sodara! Aa gak lupa itu kan?” Pelupuk mata gadis beralis tipis itu berkaca-kaca.
“Kenapa? Apa seorang kakak gak boleh nyium kening adiknya? Bukankah itu biasa?” aku mencari pembenaran atas tindakanku.
“Aku melakukannya karena kamu adikku. Apa jangan-jangan...,” kalimatku mengambang. Aku merasa tak ada padanan kata apa pun yang tepat untuk menyempurnakannya.
***
Sejak malam itu, Aqeela terus menjaga jarak denganku. Bahkan dua hari ini Aqeela menginap di kosan seorang teman kuliahnya, aku merasa terjebak di ruang hampa. Ketiadaan Aqeela di rumah ini membuat segala sesuatu tidak menarik lagi. Pikiranku kacau hingga pekerjaan di kantor pun ikut berantakan.
Hari ini aku sengaja lembur. Kalau bisa aku tidak ingin pulang, karena kembali ke rumah sama saja dengan menjebloskan diri ke dalam ruang hampa. Sangat menyiksa dan menyesakkan. Tapi sayangnya ada banyak alasan yang membuatku harus selalu pulang ke rumah.
Selang beberapa jam, aku sudah tiba di depan rumah. Sesuai dugaan. Kesepian langsung menyambutku. Dengan perasaan layu aku membiarkan diriku menyusuri lorong hampa yang terbentang di hadapanku.
Aku menghentikan langkah selama beberapa jenak begitu tiba di depan kamarnya. Aku rindu.
***
“Met pagi...!”
Suara jernih itu langsung menyambut begitu aku tiba di ruang makan.
Aku merasa jantungku sempat berhenti bekerja saat gadis itu menyapaku. “Kamu udah pulang?” tanyaku dengan perasaan terkejut, canggung, bingung, dan bahagia yang berpadu jadi satu.
“Kemarin sore.” Jawabnya singkat.
“Semalam Aa pulang jam berapa?” tanya gadis itu dengan tenang. Seolah tidak ada yang terjadi. “Aku pasti udah tidur pas Aa pulang.” Gadis berkacamata itu mengulas senyum.
Thanks for coming back,” kataku setulus hati.
“Sebenarnya aku mau sekalian pamit, A. Aku nggak bisa tinggal di sini lagi. Aku mau kos lagi sama temen aku,” jawabannya di luar dugaanku sambil terus mengaduk kopi yang ditatapnya dengan tatapan kosong.
“K-ke... kenapa? Apa karena aku? Kita bisa bicarakan dulu baik-baik kan?” kataku buru-buru.
“Sebetulnya, aku pergi bukan karena siapa-siapa. Aku pergi untuk diriku sendiri.”
Aku makin terperangah. Aku bergeming membiarkan otakku mencerna apa yang baru saja dikatakannya.
“Aku yang butuh jarak ini,” lirihnya lembut. Aku melihat dia berusaha menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.
Selama beberapa saat aku tak mendengar suara apa pun selain debar jantungku sendiri yang beradu dengan dentingan sendok yang berputar menyentuh dinding cangkir kopi yang diaduknya dengan irama yang tetap.
Tak lama kemudian gadis itu menyodorkan secangkir kopi itu ke depan wajahku.
“Semoga rasanya senikmat biasanya.” Senyumnya begitu dingin.
 Suara gadis itu terdengar lemah dan lembut saat mengucapkan salam sebelum  memutar tubuhnya dan berjalan meninggalkan meja makan. Sementara aku beku. Aku sendiri tak yakin dengan apa yang sedang berputar-putar di pikiranku saat ini.
Kusaksikan punggung gadis itu terlihat semakin kecil hingga menghilang dari pandanganku. Meninggalkanku yang membeku dengan sejuta tanda tanya.

TAMAT