Oleh: Deti Rismayanti
Mentari
tepat di atas kepala saat aku tiba di taman kota. Teriknya yang menyengat
membuat angin seolah mati. Udara pun terasa demikian pekatnya. Aku refleks
meringis saat air ludah melewati kerongkongan yang terasa kering kerontang.
Aku
duduk dan menyelonjorkan kaki di bawah teduhnya pohon beringin besar
yang berada di salah satu sisi taman kota ini. Kurebahkan punggung ke pohon
raksasa ini, menikmati betapa lelahnya berjalan sekitar satu kilometer dari
bengkel tempat kutinggalkan mobil untuk diperbaiki. Kemacetan yang parah
membuatku lebih memilih berjalan kaki.
“Permisi,
Mas.”
Aku menoleh ke sumber suara. Seorang lelaki tua tertangkap retinaku. Di tangannya tergantung kantung kresek hitam besar yang entah apa isinya. Namun, segera kuketahui ketika ia mengeluarkan sesuatu dari dalam benda itu.
Aku menoleh ke sumber suara. Seorang lelaki tua tertangkap retinaku. Di tangannya tergantung kantung kresek hitam besar yang entah apa isinya. Namun, segera kuketahui ketika ia mengeluarkan sesuatu dari dalam benda itu.
“Ini,
Mas, barangkali Mas berminat,” katanya serupa merajuk.
“Roti?”
aku mengernyit.
Yang
benar saja! Aku mengumpat dalam hati sambil mengitarkan pandangan. Mataku menyipit saat terik kembali
meyilaukan mata. Jika saja lelaki tua itu menawariku
minuman dingin, aku akan sangat menghargainya.
Seperti
tidak menyadari keterusikanku, lelaki tua itu pun masih menyunggingkan senyum
yang sebetulnya sama sekali tak menarik untuk dilihat. Ya, menurut pandanganku,
tentu saja. Kulirik lelaki tua itu sekilas melalui ekor mata.
Bunyi
kresek-kresek yang ditimbulkannya semakin membuatku ingin menghardik dan
menyemburkan kemurkaan padanya. Sesuatu memaksaku menoleh meski sebetulnya
aku enggan. Seolah tak merasakan kekesalanku, tangan gemetar lelaki tua
itu meraih salah satu roti yang plastik kemasannya menempel dengan isinya. Lepek. Masih dengan tangan gemetar tangan keriput lelaki tua menyobek bungkusnya,
mengeluarkan isinya, kemudian membaginya menjadi dua bagian.
“Ini,
Mas, dicoba dulu. Gratis.” Lelaki tua itu menyodorkan sepotong rotinya padaku.
Aku
menolak perlahan. Mengupayakan diriku agar tetap bersikap sopan padanya.
“Dicoba
dulu, Mas. Enak. Saya yang jamin.” Lelaki tua itu terkekeh sendiri.
Setitik
rasa iba hinggap di hatiku. Barangkali dengan mencicipi rotinya, lelaki
tua ini akan puas dan segera hengkang dari hadapanku.
Aku
mengambil sepotong roti itu dengan ragu. Oh,
sial! Roti apa pula ini? Umpatku dalam hati.
Dengan
senyum yang terus terpampang di wajah polosnya, lelaki tua itu terus
memelototiku saat aku memutar-mutar roti yang sama sekali enggan kutelan walau
secuil.
Diam-diam
kucium aroma rotinya sambil pura-pura kudekatkan ke mulut dengan harapan
sedetik saja dia berpaling dari memandangiku. Ternyata nihil, lelaki tua itu
justru semakin lekat memandangiku, hingga akhirnya aku terpaksa menggigit
rotinya. Ya Tuhan..., apa lelaki tua itu
yakin roti ini untuk dimakan?
“Lagi,
Mas. Ayo rotinya dihabiskan!” seru lelaki tua itu dengan mata berbinar.
Sial!
Pandai sekali lelaki tua ini mempermainkanku. Dia membuatku merasa muak dan
kasihan padanya pada saat bersamaan. Manik matanya membuatku semakin iba. Dan
sekarang kulihat pelupuk matanya basah. Apa lagi ini?
“Lho,
kenapa nangis, Pak?” tanyaku spontan saat beberapa butir air mata meluncur
membasahi wajahnya yang keriput.
Sambil
terisak, lelaki tua itu berkata, “Roti-roti ini istri saya yang buat, Mas.
Dan setiap hari hanya roti-roti inilah yang kami makan...,” katanya sedih
dengan suara berat.
Rasanya
ingin sekali aku bilang: Terserah ya,
Pak, roti ini bikinan istri Bapak atau siapa pun. Apa hubungannya dengan saya? Untungnya kalimat tersebut mampu kupenjarakan. Aku memilih untuk tidak
memberikan komentar apapun, dan rupanya lelaki tua itu masih berniat
melanjutkan kalimatnya.
“Seumur
hidup, saya belum pernah merasakan roti yang lebih lezat dari roti buatan istri
saya. Dan saya merasa bahagia bisa makan roti lezat buatannya setiap hari.”
Kali
ini aku terpaksa menaikkan kedua sudut bibir untuk menunjukkan rasa simpatikku.
“Roti
ini Bapak jual berapa?” tanyaku sekenanya. Mungkin lelaki tua itu akan pergi
setelah aku membeli roti kebanggaannya tersebut. Jika perlu aku tidak keberatan
memborongnya, yang penting lelaki itu menghilang dari pandanganku secepatnya
dan membiarkanku beristirahat sebentar saja sebelum aku kembali melanjutkan
pekerjaanku.
Tapi
anehnya lelaki tua itu malah menggeleng lemah.
“Kenapa,
Pak?” tanyaku bingung.
“Rotinya
tidak dijual,” jawabnya singkat.
“Lho,
bukannya Bapak lagi jualan roti?”
“Iya,
tapi sekarang saya tidak akan menjualnya ke Mas.”
“Kok
begitu? Saya kan mau beli.” Aku mengernyit tak mengerti.
“Bukannya
tadi Mas nggak mau beli?”
“Siapa
bilang? Saya mau beli kok! Semuanya!”
Lelaki tua itu tampak tak percaya.
“Semuanya?”
“Ya!
Semuanya.”
“Untuk
apa, Mas? Saya kasih Mas sepotong aja Masnya nggak mau makan. Sekarang Mas
bilang mau beli semuanya. Untuk apa?” lelaki tua itu menatapku dengan ekpresi
yang tak bisa kumengerti.
“Oh,
itu..., yaaa, karena saya belum lapar.” Jawabku sekenanya.
“Kalau
begitu belinya nanti saja, kalau Masnya sudah lapar.”
“Nanti
saya makan rotinya kalau saya lapar.”
“Memangnya
Mas kapan laparnya?”
“Ya
saya juga ngga tahu.”
“Kalau
gitu, saya akan tunggu Mas lapar dulu, setelah itu baru saya akan jual roti
saya ke Mas.”
Payah!
Kenapa juga aku meladeni lelaki tua ini. Aku mengasihani sekaligus menertawai
diriku sendiri. Aku
melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kiriku sekilas.
“Maaf
ya, Pak. Saya duluan,” kataku pamit sebagai formalitas.
Aku
tak mengharapkan konfirmasi apapun dari lelaki tua itu. Aku bangkit dan
beranjak meninggalkan lelaki tua itu di belakangku.
Aku
baru saja hendak menarik napas lega, tapi urung saat lelaki tua itu tiba-tiba
menjejeriku. Aku terhenyak sesaat. Namun sepertinya aku harus kembali pasrah
dan menyerah pada kegigihan lelaki tua yang satu ini.
“O
ya, Mas, Masnya pasti nggak tau kan kalau istri saya itu jago banget bikin
roti. Sudah ahlinya.” Cerocos lelaki tua itu mantap dan penuh percaya diri.
“O
Ya?” sahutku enggan.
“Iya,
Mas.” Angguknya cepat dan penuh semangat. Aku sempat ngeri, khawatir kepala
lelaki tua itu akan terlepas dari batang lehernya.
“Sebentar,
Mas. Mas ini sebetulnya mau ke mana?” tanyanya sambil berhenti di depanku. Kepo kalau istilah anak muda sekarang.
“Mau
ke tempat kerja, Pak,” kataku datar.
“Oh...,
jadi saya ganggu Mas dong ya?” katanya dengan nada menyesal.
“Duh,
maaf ya Mas. Saya nggak bermaksud...,” lanjutnya murung.
“Nggak
apa-apa, Pak. Santai kok,” jawabku lebih manis.
Sebongkah sesal menyesaki dada saat kulihat
lelaki tua itu melunglai dan merasa tak enak hati padaku. Perlahan aku mulai
membuka hati dan menikmati percakapan kami. Diam-diam aku berterimakasih pada
lelaki tua itu, karena telah bersabar menghadapi sikap dinginku dan bersedia
menjadi teman bicara selama berjalan menuju tempat usahaku.
“Sudah
lama jualan?” tanyaku kemudian, lebih santai. Kembali pada nada bicaraku yang biasa. Aku benar-benar menyesal sempat kesal pada lelaki tua itu. Tak seharusnya aku begitu.
“Lumayan,
Mas. Boleh saya cerita?”
“Ya,
tentu boleh.” Aku tersenyum antusias.
Lelaki
tua itu mengulum senyum dan memuali ceritanya, “Dulu, waktu pertama kali tiba
di kota ini, saya kehabisan bekal. Selama dua hari hanya minum air kran di
masjid-masjid. Saya nyaris pingsan karena lemas. Waktu itu saya
terus nyari-nyari kerjaan tapi belum ada yang nerima. Dan saya lebih memilih
kelaparan dari pada harus ngemis. Syukur pada Tuhan, seorang gadis muncul
dan menawari saya roti.”
Lelaki
tua menerawang sambil terus mengembangkan senyum. Lalu lelaki tua itu menatap ke arahku dan melanjutkan ceritanya.
“Saya
melahap roti pemberiannya dengan sangat gembira, dan gadis itu membantu saya
membukakan bungkus rotinya, berkali-kali, sampai-sampai kami tak sempat
menghitung berapa banyak roti yang habis saya makan saat itu. Dan gadis itu
memang menolak untuk menghitungnya. Setelah menghabiskan sekian banyak rotinya itu, akhirnya saya pun kembali bertenaga. Dan sebagai rasa terimakasih saya
memutuskan untuk membantunya menjual roti-rotinya. Saya sangat terkesan oleh
kebaikan hatinya dan saya merasa telah menjadi manusia paling beruntung di
dunia, karena setiap hari saya bisa menikmati roti lezat buatannya secara cuma-cuma.”
Lelaki tua itu tersenyum bangga dengan mata berkaca-kaca.
Ah, lelaki
tua itu pandai juga membuat orang terharu. Aku memalingkan wajah sebentar untuk
mengusap ujung mataku yang berair.
“Lalu,
Bapak jatuh cinta pada gadis itu?” tanyaku sambil tersenyum menatapnya.
Ini sedikit
menggelikan, tapi lihatlah bagaimana lelaki tua itu tersipu.
“Iya,
Mas. Sangat.” Akunya malu-malu.
“Jatuh
cinta pada si gadis atau rotinya?” tanyaku mencandai.
Suaranya
melembut saat menjawab, “Saya jatuh cinta pada kemurahan hatinya, Mas....”
Lelaki tua itu ikut berhenti saat aku berhenti melangkah. Kuikuti arah pandangannya saat lelaki tua itu mengitarkan pandangan, melahap hiruk pikuk jalanan ibu kota dengan
bola matanya. Gedung-gedung pertokoan berjejer di sepanjang jalan ini, papan
iklan dan reklame terpampang di sejauh mata memandang, lalu lalang para pejalan
kaki terlihat memenuhi setiap trotoar di daerah ini. Lalu pandangan lelaki tua
itu berakhir padaku.
“Kenapa
berhenti, Mas?” tanyanya kebingungan.
“Saya
udah sampai.” Aku mengangkat bahu sekilas.
Lelaki
tua itu kembali mengitarkan pandangan, dan kali ini pandangannya berhenti pada sebuah
tulisan yang tercetak tebal di tembok bangunan yang berdiri tepat di belakang
kami.
R & D Bakery
Baru sekali ini aku beretemu dan berbincang dengan lelaki tua itu. Tentu saja kami masih asing satu sama lain, sehingga mungkin orang-orang akan heran melihat sikapku sekarang.
“Masuk
dulu yuk!” Ajakku.
Lelaki tua itu masih mematung di tempanya berdiri, tengadah mengamati merk toko tersebut. Hatiku gerimis. Lelaki tua itu tiba-tiba saja mengingatkanku pada mendiang Ayah.
Aku menggamit sikut lelaki tua itu dan bermaksud membawanya masuk ke toko roti milikku. Namun lelaki itu malah menahanku.
Aku menggamit sikut lelaki tua itu dan bermaksud membawanya masuk ke toko roti milikku. Namun lelaki itu malah menahanku.
“Mas...,”
tiba-tiba suara berat lelaki tua itu gemetar.
“Kenapa,
Pak? Saya lapar, dan Bapak janji akan menjual rotinya ketika saya lapar. Ya kan?”
aku merajuk sambil memegangi perutku dengan sebelah tangan.
Entah
kenapa lelaki tua seperti enggan menerima ajakanku.
“Saya
nggak pantas, Mas, masuk ke toko semewah ini. Ini istana, Mas. Gak sembarang orang bisa masuk.” lelaki tua itu menunduk menatap
dirinya.
Ya. Pakaian
yang dikenakan lelaki tua itu memang sudah sangat lusuh, dan sandal jepit yang
dikenakannya pun sudah buruk rupa, tapi aku rasa itu bukan masalah. Selama tidak
memiliki niat jahat, semua orang berhak masuk ke tokoku, termasuk lelaki tua
itu.
“Bapak
temani saya makan di dalam ya?” aku sedikit memaksa.
Aku mendorong
pintu toko ke arah dalam. Begitu kami berada di dalam, kesejukan langsung
menyambut kami. Lelaki tua itu makin melongo. Tubuhnya seperti robot saja saat menuruti
ke mana pun aku membawanya sementara kulihat otak lelaki tua itu seolah tengah
berhenti bekerja.
“Pak?
Bapak mau pesan apa?” tanyaku yang ketiga kalinya.
“Ah...,
kenapa Mas?” sahutnya sambil mengerjap. Otak lelaki tua itu sudah bekerja
normal lagi tampaknya.
Aku tersenyum
dan mengulangi pertanyaanku. Yang keempat kalinya.
“Nggak
usah, Mas. Roti di sini harganya mahal-mahal.” jawabnya kemudian.
“Nggak,
apa-apa, Pak. Saya yang traktir.” Aku meyakinkan.
“Kenapa
nggak makan roti saya aja, Mas? Harga termurah untuk sepotong roti di sini masih
bisa untuk membeli selusin roti saya,” katanya sungguh-sungguh.
“Nggak
apa-apa, Pak. Soalnya roti yang saya beli dari bapak mau saya bawa pulang. Saya
akan memakannya nanti bersama anak dan istri saya.” Aku mengarang cerita.
Akhirnya
lelaki tua itu pun menyerah. Setelah membacakan pesanan kami pada penjaga kasir
yang tak lain adalah bawahanku, aku mengajak lelaki tua itu naik ke lantai
atas, ke ruang paling istimewa yang biasa di pesan oleh tamu-tamu khusus. Kubiarkan
lelaki tua itu memilih tempat duduknya sendiri, lalu tubuh ringkih itu pun
memutuskan untuk duduk di sofa berlengan yang berada di dekat jendela kaca yang
besar yang menghadap langsung ke pusat kota.
Sambil
menunggu pesanan kami datang, lelaki tua itu pun kembali memulai kelanjutan
cerita sebelumnya. Aku langsung bersidekap bersiap menyimaknya.
“Dulu,
saat masih muda. Saya dan istri saya sering duduk di emperan istana roti ini.
menikmati lezatnya aroma roti-roti yang berasal dari istana ini sambil
meneteskan air liur. Lalu kami menyantap roti kami sambil menghirup aroma roti
yang kerap menyeruak ke luar saat orang-orang keluar masuk toko ini melewati
pintu tadi. Kelezatan roti kami pun menjadi berlipat-lipat. Sebelum pulang kami selalu menyempatkan
diri untuk memandangi roti-roti beraneka bentuk yang terpajang di etalase itu
sambil berkhayal, suatu hari nanti kami berada di dalamnya, duduk di kursi
empuk sambil menikmati segelas kopi susu sambil mencicipi roti yang
beraneka bentuk itu walaupun kami hanya mampu membayar sepotong saja untuk kami
nikmati berdua.” Lelaki tua itu tampaknya tengah asik bernostalgia.
Aku menyimaknya sambil mengulum senyum.
Aku menyimaknya sambil mengulum senyum.
“Saya
baru tahu ada ruangan khusus seperti ini di dalam istana roti ini. Andai istri
saya melihat ini, dia pasti terlonjak kegirangan.” Lelaki tua itu berdecak
kagum.
“Besok,
kita ajak istri Bapak ya?” aku senang melihat lelaki tua itu semringah.
Lelaki
tua itu hanya menggeleng.
“Sebetulnya
saya masih perlu memastikan Mas nggak akan buang roti-roti saya ke tempat sampah.” Lelaki
tua itu menghindari pertanyaanku.
“Baiklah,
sekarang saya akan makan rotinya. Dan... itu pesanan kita sudah datang!”
“Ada
lagi, Pak?” tanya seorang pelayan padaku.
“Ini
cukup, makasih.” Jawabku sopan, lalu mengijinkannya kembali bekerja.
Aku mempersilakakan
lelaki tua itu menikmati hangatnya gingger
coffee dan roti andalan kami.
Lelaki
tua itu menyodorkan sekantung kresek roti kebanggaannya padaku. Aku membuka
kresek hitam itu lebih lebar dan mengambil satu dari dalamnya. Dengan enggan
kubuka pembungkusnya dan kudekatkan ke mulut dengan sangat terpaksa. Aromanya
bukan hanya tak sebanding dengan aroma roti-rotiku, tapi lebih buruk dari itu. Aku
menahan mual untuk menghargai perasaan lelaki tua itu.
Aku menggigitnya
sedikit dan mendesaknya untuk melewati kerongkonganku sesegera mungkin. Sementara
di seberang sana kusaksikan lelaki itu mencicipi roti andalanku dengan mata
basah, membuat gerakan tanganku di cangkir kopi cappuchinno-ku tertahan.
“Lho?
Kenapa? Bapak nggak suka makan roti saya?” tanyaku penasaran bercampur
khawatir.
Lelaki
tua itu hanya menggeleng lemah.
“Saya
merasa sudah berkhianat pada mendiang istri saya, Mas, dulu dia yang paling
berharap bisa mencicipi bagaimana lezatnya roti beraroma surga ini.”
Lelaki tua itu tertunduk kian dalam dengan
bahu berguncang. Ya lelaki tua itu menangis sesenggukan. Aku hendak
menghiburnya sampai sesuatu membuatku tersentak.
“Mendiang?”
aku refleks mendorong meja di depanku, takkuasa mengendalikan keterkejutanku.
Lelaki
tua itu masih dalam posisinya.
“Iya,
Mas, istri saya baru saja meninggal seminggu lalu. Orang bilang dia kena TBC.”
Sebongkah
sesak memenuhi rongga dadaku. Selain terseret ke dalam duka kehilangan yang memilukan lelaki tua itu, ingatanku kembali pada segigit roti yang baru
saja melewati kerongkonganku. Aku limbung.
SELESAI
Ini adalah cerpen saya edit kembali setelah sebelumnya pernah dimuat dalam antologi cerpen anggota FLP Bandung dengan judul buku "Umrah & Roti Terlezat di Dunia" yang diterbitkan oleh penerbit indie Leutikaprio pada tahun 2014.
Cover buku:

Menyayat hati, kalo istrinya sudah meninggal seminggu yg lalu, berarti yg dijual pak tua itu roti buatan kapan ?
BalasHapuskapan yaaa? Hehe....
BalasHapusmakasih, mas Tiesna, udah mampir dan nyicipin roti terlezat di blog saya. :)
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusSubhanallah...mabruk teh deti...
BalasHapusKayaknya pas nelen roti si masnya inget antara roti kapan sama TBC nya juga hehe...marvelous..t.deti :-) (it's me t.deti...idah ODOA ummi faza)
Subhanallah...mabruk teh deti...
BalasHapusKayaknya pas nelen roti si masnya inget antara roti kapan sama TBC nya juga hehe...marvelous..t.deti :-) (it's me t.deti...idah ODOA ummi faza)