Kamis, 12 Mei 2016

Roti Terlezat di Dunia

Oleh: Deti Rismayanti

Mentari tepat di atas kepala saat aku tiba di taman kota. Teriknya yang menyengat membuat angin seolah mati. Udara pun terasa demikian pekatnya. Aku refleks meringis saat air ludah melewati kerongkongan yang terasa kering kerontang.
Aku duduk dan menyelonjorkan kaki di bawah teduhnya pohon beringin besar yang berada di salah satu sisi taman kota ini. Kurebahkan punggung ke pohon raksasa ini, menikmati betapa lelahnya berjalan sekitar satu kilometer dari bengkel tempat kutinggalkan mobil untuk diperbaiki. Kemacetan yang parah membuatku lebih memilih berjalan kaki.
“Permisi, Mas.”
Aku menoleh ke sumber suara. Seorang lelaki tua tertangkap retinaku. Di tangannya tergantung kantung kresek hitam besar yang entah apa isinya. Namun, segera kuketahui ketika ia mengeluarkan sesuatu dari dalam benda itu.
“Ini, Mas, barangkali Mas berminat,” katanya serupa merajuk.
“Roti?” aku mengernyit.
Yang benar saja! Aku mengumpat dalam hati sambil mengitarkan pandangan. Mataku menyipit saat terik kembali meyilaukan mata. Jika saja lelaki tua itu menawariku minuman dingin, aku akan sangat menghargainya.
Seperti tidak menyadari keterusikanku, lelaki tua itu pun masih menyunggingkan senyum yang sebetulnya sama sekali tak menarik untuk dilihat. Ya, menurut pandanganku, tentu saja. Kulirik lelaki tua itu sekilas melalui ekor mata.
Bunyi kresek-kresek yang ditimbulkannya semakin membuatku ingin menghardik dan menyemburkan kemurkaan padanya. Sesuatu memaksaku menoleh meski sebetulnya aku enggan. Seolah tak merasakan kekesalanku, tangan gemetar lelaki tua itu meraih salah satu roti yang plastik kemasannya menempel dengan isinya. Lepek. Masih dengan tangan gemetar tangan keriput lelaki tua menyobek bungkusnya, mengeluarkan isinya, kemudian membaginya menjadi dua bagian.
“Ini, Mas, dicoba dulu. Gratis.” Lelaki tua itu menyodorkan sepotong rotinya padaku.
Aku menolak perlahan. Mengupayakan diriku agar tetap bersikap sopan padanya.
“Dicoba dulu, Mas. Enak. Saya yang jamin.” Lelaki tua itu terkekeh sendiri.
Setitik rasa iba hinggap di hatiku. Barangkali dengan mencicipi rotinya, lelaki tua ini akan puas dan segera hengkang dari hadapanku.
Aku mengambil sepotong roti itu dengan ragu. Oh, sial! Roti apa pula ini? Umpatku dalam hati.
Dengan senyum yang terus terpampang di wajah polosnya, lelaki tua itu terus memelototiku saat aku memutar-mutar roti yang sama sekali enggan kutelan walau secuil.
Diam-diam kucium aroma rotinya sambil pura-pura kudekatkan ke mulut dengan harapan sedetik saja dia berpaling dari memandangiku. Ternyata nihil, lelaki tua itu justru semakin lekat memandangiku, hingga akhirnya aku terpaksa menggigit rotinya. Ya Tuhan..., apa lelaki tua itu yakin roti ini untuk dimakan?
“Lagi, Mas. Ayo rotinya dihabiskan!” seru lelaki tua itu dengan mata berbinar.
Sial! Pandai sekali lelaki tua ini mempermainkanku. Dia membuatku merasa muak dan kasihan padanya pada saat bersamaan. Manik matanya membuatku semakin iba. Dan sekarang kulihat pelupuk matanya basah. Apa lagi ini?
“Lho, kenapa nangis, Pak?” tanyaku spontan saat beberapa butir air mata meluncur membasahi wajahnya yang keriput.
Sambil terisak, lelaki tua itu berkata, “Roti-roti ini istri saya yang buat, Mas. Dan setiap hari hanya roti-roti inilah yang kami makan...,” katanya sedih dengan suara berat.
Rasanya ingin sekali aku bilang: Terserah ya, Pak, roti ini bikinan istri Bapak atau siapa pun. Apa hubungannya dengan saya? Untungnya kalimat tersebut mampu kupenjarakan. Aku memilih untuk tidak memberikan komentar apapun, dan rupanya lelaki tua itu masih berniat melanjutkan kalimatnya.
“Seumur hidup, saya belum pernah merasakan roti yang lebih lezat dari roti buatan istri saya. Dan saya merasa bahagia bisa makan roti lezat buatannya setiap hari.”
Kali ini aku terpaksa menaikkan kedua sudut bibir untuk menunjukkan rasa simpatikku.
“Roti ini Bapak jual berapa?” tanyaku sekenanya. Mungkin lelaki tua itu akan pergi setelah aku membeli roti kebanggaannya tersebut. Jika perlu aku tidak keberatan memborongnya, yang penting lelaki itu menghilang dari pandanganku secepatnya dan membiarkanku beristirahat sebentar saja sebelum aku kembali melanjutkan pekerjaanku.
Tapi anehnya lelaki tua itu malah menggeleng lemah.
“Kenapa, Pak?” tanyaku bingung.
“Rotinya tidak dijual,” jawabnya singkat.
“Lho, bukannya Bapak lagi jualan roti?”
“Iya, tapi sekarang saya tidak akan menjualnya ke Mas.”
“Kok begitu? Saya kan mau beli.” Aku mengernyit tak mengerti.
“Bukannya tadi Mas nggak mau beli?”
“Siapa bilang? Saya mau beli kok! Semuanya!”
Lelaki tua itu tampak tak percaya.
“Semuanya?”
“Ya! Semuanya.”
“Untuk apa, Mas? Saya kasih Mas sepotong aja Masnya nggak mau makan. Sekarang Mas bilang mau beli semuanya. Untuk apa?” lelaki tua itu menatapku dengan ekpresi yang tak bisa kumengerti.
“Oh, itu..., yaaa, karena saya belum lapar.” Jawabku sekenanya.
“Kalau begitu belinya nanti saja, kalau Masnya sudah lapar.”
“Nanti saya makan rotinya kalau saya lapar.”
“Memangnya Mas kapan laparnya?”
“Ya saya juga ngga tahu.”
“Kalau gitu, saya akan tunggu Mas lapar dulu, setelah itu baru saya akan jual roti saya ke Mas.”
Payah! Kenapa juga aku meladeni lelaki tua ini. Aku mengasihani sekaligus menertawai diriku sendiri. Aku melirik jam tangan yang melingkari pergelangan tangan kiriku sekilas.
“Maaf ya, Pak. Saya duluan,” kataku pamit sebagai formalitas.
Aku tak mengharapkan konfirmasi apapun dari lelaki tua itu. Aku bangkit dan beranjak meninggalkan lelaki tua itu di belakangku.
Aku baru saja hendak menarik napas lega, tapi urung saat lelaki tua itu tiba-tiba menjejeriku. Aku terhenyak sesaat. Namun sepertinya aku harus kembali pasrah dan menyerah pada kegigihan lelaki tua yang satu ini.
“O ya, Mas, Masnya pasti nggak tau kan kalau istri saya itu jago banget bikin roti. Sudah ahlinya.” Cerocos lelaki tua itu mantap dan penuh percaya diri.
“O Ya?” sahutku enggan.
“Iya, Mas.” Angguknya cepat dan penuh semangat. Aku sempat ngeri, khawatir kepala lelaki tua itu akan terlepas dari batang lehernya.
“Sebentar, Mas. Mas ini sebetulnya mau ke mana?” tanyanya sambil berhenti di depanku. Kepo kalau istilah anak muda sekarang.
“Mau ke tempat kerja, Pak,” kataku datar.
“Oh..., jadi saya ganggu Mas dong ya?” katanya dengan nada menyesal.
“Duh, maaf ya Mas. Saya nggak bermaksud...,” lanjutnya murung.
“Nggak apa-apa, Pak. Santai kok,” jawabku lebih manis.
Sebongkah sesal menyesaki dada saat kulihat lelaki tua itu melunglai dan merasa tak enak hati padaku. Perlahan aku mulai membuka hati dan menikmati percakapan kami. Diam-diam aku berterimakasih pada lelaki tua itu, karena telah bersabar menghadapi sikap dinginku dan bersedia menjadi teman bicara selama berjalan menuju tempat usahaku.
“Sudah lama jualan?” tanyaku kemudian, lebih santai. Kembali pada nada bicaraku yang biasa. Aku benar-benar menyesal sempat kesal pada lelaki tua itu. Tak seharusnya aku begitu.
“Lumayan, Mas. Boleh saya cerita?”
“Ya, tentu boleh.” Aku tersenyum antusias.
Lelaki tua itu mengulum senyum dan memuali ceritanya, “Dulu, waktu pertama kali tiba di kota ini, saya kehabisan bekal. Selama dua hari hanya minum air kran di masjid-masjid. Saya nyaris pingsan karena lemas. Waktu itu saya terus nyari-nyari kerjaan tapi belum ada yang nerima. Dan saya lebih memilih kelaparan dari pada harus ngemis. Syukur pada Tuhan, seorang gadis muncul dan menawari saya roti.”
Lelaki tua menerawang sambil terus mengembangkan senyum. Lalu lelaki tua itu menatap ke arahku dan melanjutkan ceritanya.
“Saya melahap roti pemberiannya dengan sangat gembira, dan gadis itu membantu saya membukakan bungkus rotinya, berkali-kali, sampai-sampai kami tak sempat menghitung berapa banyak roti yang habis saya makan saat itu. Dan gadis itu memang menolak untuk menghitungnya. Setelah menghabiskan sekian banyak rotinya itu, akhirnya saya pun kembali bertenaga. Dan sebagai rasa terimakasih saya memutuskan untuk membantunya menjual roti-rotinya. Saya sangat terkesan oleh kebaikan hatinya dan saya merasa telah menjadi manusia paling beruntung di dunia, karena setiap hari saya bisa menikmati roti lezat buatannya secara cuma-cuma.” Lelaki tua itu tersenyum bangga dengan mata berkaca-kaca.
Ah, lelaki tua itu pandai juga membuat orang terharu. Aku memalingkan wajah sebentar untuk mengusap ujung mataku yang berair.
“Lalu, Bapak jatuh cinta pada gadis itu?” tanyaku sambil tersenyum menatapnya.
Ini sedikit menggelikan, tapi lihatlah bagaimana lelaki tua itu tersipu.
“Iya, Mas. Sangat.” Akunya malu-malu.
“Jatuh cinta pada si gadis atau rotinya?” tanyaku mencandai.
Suaranya melembut saat menjawab, “Saya jatuh cinta pada kemurahan hatinya, Mas....”
            Lelaki tua itu ikut berhenti saat aku berhenti melangkah. Kuikuti arah pandangannya saat lelaki tua itu mengitarkan pandangan, melahap hiruk pikuk jalanan ibu kota dengan bola matanya. Gedung-gedung pertokoan berjejer di sepanjang jalan ini, papan iklan dan reklame terpampang di sejauh mata memandang, lalu lalang para pejalan kaki terlihat memenuhi setiap trotoar di daerah ini. Lalu pandangan lelaki tua itu berakhir padaku.
            “Kenapa berhenti, Mas?” tanyanya kebingungan.
            “Saya udah sampai.” Aku mengangkat bahu sekilas.
            Lelaki tua itu kembali mengitarkan pandangan, dan kali ini pandangannya berhenti pada sebuah tulisan yang tercetak tebal di tembok bangunan yang berdiri tepat di belakang kami.
             R & D Bakery
          Baru sekali ini aku beretemu dan berbincang dengan lelaki tua itu. Tentu saja kami masih asing satu sama lain, sehingga mungkin orang-orang akan heran melihat sikapku sekarang.
“Masuk dulu yuk!” Ajakku. 
 Lelaki tua itu masih mematung di tempanya berdiri, tengadah mengamati merk toko tersebut. Hatiku gerimis. Lelaki tua itu tiba-tiba saja mengingatkanku pada mendiang Ayah.
Aku menggamit sikut lelaki tua itu dan bermaksud membawanya masuk ke toko roti milikku. Namun lelaki itu malah menahanku.
“Mas...,” tiba-tiba suara berat lelaki tua itu gemetar.
“Kenapa, Pak? Saya lapar, dan Bapak janji akan menjual rotinya ketika saya lapar. Ya kan?” aku merajuk sambil memegangi perutku dengan sebelah tangan.
Entah kenapa lelaki tua seperti enggan menerima ajakanku.
“Saya nggak pantas, Mas, masuk ke toko semewah ini. Ini istana, Mas. Gak sembarang orang bisa masuk.” lelaki tua itu menunduk menatap dirinya.
Ya. Pakaian yang dikenakan lelaki tua itu memang sudah sangat lusuh, dan sandal jepit yang dikenakannya pun sudah buruk rupa, tapi aku rasa itu bukan masalah. Selama tidak memiliki niat jahat, semua orang berhak masuk ke tokoku, termasuk lelaki tua itu.
“Bapak temani saya makan di dalam ya?” aku sedikit memaksa.
Aku mendorong pintu toko ke arah dalam. Begitu kami berada di dalam, kesejukan langsung menyambut kami. Lelaki tua itu makin melongo. Tubuhnya seperti robot saja saat menuruti ke mana pun aku membawanya sementara kulihat otak lelaki tua itu seolah tengah berhenti bekerja.
“Pak? Bapak mau pesan apa?” tanyaku yang ketiga kalinya.
“Ah..., kenapa Mas?” sahutnya sambil mengerjap. Otak lelaki tua itu sudah bekerja normal lagi tampaknya.
Aku tersenyum dan mengulangi pertanyaanku. Yang keempat kalinya.
“Nggak usah, Mas. Roti di sini harganya mahal-mahal.” jawabnya kemudian.
“Nggak, apa-apa, Pak. Saya yang traktir.” Aku meyakinkan.
“Kenapa nggak makan roti saya aja, Mas? Harga termurah untuk sepotong roti di sini masih bisa untuk membeli selusin roti saya,” katanya sungguh-sungguh.
“Nggak apa-apa, Pak. Soalnya roti yang saya beli dari bapak mau saya bawa pulang. Saya akan memakannya nanti bersama anak dan istri saya.” Aku mengarang cerita.
Akhirnya lelaki tua itu pun menyerah. Setelah membacakan pesanan kami pada penjaga kasir yang tak lain adalah bawahanku, aku mengajak lelaki tua itu naik ke lantai atas, ke ruang paling istimewa yang biasa di pesan oleh tamu-tamu khusus. Kubiarkan lelaki tua itu memilih tempat duduknya sendiri, lalu tubuh ringkih itu pun memutuskan untuk duduk di sofa berlengan yang berada di dekat jendela kaca yang besar yang menghadap langsung ke pusat kota.
Sambil menunggu pesanan kami datang, lelaki tua itu pun kembali memulai kelanjutan cerita sebelumnya. Aku langsung bersidekap bersiap menyimaknya.
“Dulu, saat masih muda. Saya dan istri saya sering duduk di emperan istana roti ini. menikmati lezatnya aroma roti-roti yang berasal dari istana ini sambil meneteskan air liur. Lalu kami menyantap roti kami sambil menghirup aroma roti yang kerap menyeruak ke luar saat orang-orang keluar masuk toko ini melewati pintu tadi. Kelezatan roti kami pun menjadi berlipat-lipat. Sebelum pulang kami selalu menyempatkan diri untuk memandangi roti-roti beraneka bentuk yang terpajang di etalase itu sambil berkhayal, suatu hari nanti kami berada di dalamnya, duduk di kursi empuk sambil menikmati segelas kopi susu sambil mencicipi roti yang beraneka bentuk itu walaupun kami hanya mampu membayar sepotong saja untuk kami nikmati berdua.” Lelaki tua itu tampaknya tengah asik bernostalgia.
Aku menyimaknya sambil mengulum senyum.
“Saya baru tahu ada ruangan khusus seperti ini di dalam istana roti ini. Andai istri saya melihat ini, dia pasti terlonjak kegirangan.” Lelaki tua itu berdecak kagum.
“Besok, kita ajak istri Bapak ya?” aku senang melihat lelaki tua itu semringah.
Lelaki tua itu hanya menggeleng.
“Sebetulnya saya masih perlu memastikan Mas nggak akan buang roti-roti saya ke tempat sampah.” Lelaki tua itu menghindari pertanyaanku.
“Baiklah, sekarang saya akan makan rotinya. Dan... itu pesanan kita sudah datang!”
“Ada lagi, Pak?” tanya seorang pelayan padaku.
“Ini cukup, makasih.” Jawabku sopan, lalu mengijinkannya kembali bekerja.
Aku mempersilakakan lelaki tua itu menikmati hangatnya gingger coffee dan roti andalan kami.
Lelaki tua itu menyodorkan sekantung kresek roti kebanggaannya padaku. Aku membuka kresek hitam itu lebih lebar dan mengambil satu dari dalamnya. Dengan enggan kubuka pembungkusnya dan kudekatkan ke mulut dengan sangat terpaksa. Aromanya bukan hanya tak sebanding dengan aroma roti-rotiku, tapi lebih buruk dari itu. Aku menahan mual untuk menghargai perasaan lelaki tua itu.
Aku menggigitnya sedikit dan mendesaknya untuk melewati kerongkonganku sesegera mungkin. Sementara di seberang sana kusaksikan lelaki itu mencicipi roti andalanku dengan mata basah, membuat gerakan tanganku di cangkir kopi cappuchinno-ku tertahan.
“Lho? Kenapa? Bapak nggak suka makan roti saya?” tanyaku penasaran bercampur khawatir.
Lelaki tua itu hanya menggeleng lemah.
“Saya merasa sudah berkhianat pada mendiang istri saya, Mas, dulu dia yang paling berharap bisa mencicipi bagaimana lezatnya roti beraroma surga ini.”
 Lelaki tua itu tertunduk kian dalam dengan bahu berguncang. Ya lelaki tua itu menangis sesenggukan. Aku hendak menghiburnya sampai sesuatu membuatku tersentak.
“Mendiang?” aku refleks mendorong meja di depanku, takkuasa mengendalikan keterkejutanku.
Lelaki tua itu masih dalam posisinya.
“Iya, Mas, istri saya baru saja meninggal seminggu lalu. Orang bilang dia kena TBC.”
Sebongkah sesak memenuhi rongga dadaku. Selain terseret ke dalam duka kehilangan yang memilukan lelaki tua itu, ingatanku kembali pada segigit roti yang baru saja melewati kerongkonganku. Aku limbung.

SELESAI


Ini adalah cerpen saya edit kembali setelah sebelumnya pernah dimuat dalam antologi cerpen anggota FLP Bandung dengan judul buku "Umrah & Roti Terlezat di Dunia" yang diterbitkan oleh penerbit indie Leutikaprio pada tahun 2014.
Cover buku:







           




5 komentar:

  1. Menyayat hati, kalo istrinya sudah meninggal seminggu yg lalu, berarti yg dijual pak tua itu roti buatan kapan ?

    BalasHapus
  2. kapan yaaa? Hehe....

    makasih, mas Tiesna, udah mampir dan nyicipin roti terlezat di blog saya. :)

    BalasHapus
  3. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  4. Subhanallah...mabruk teh deti...
    Kayaknya pas nelen roti si masnya inget antara roti kapan sama TBC nya juga hehe...marvelous..t.deti :-) (it's me t.deti...idah ODOA ummi faza)

    BalasHapus
  5. Subhanallah...mabruk teh deti...
    Kayaknya pas nelen roti si masnya inget antara roti kapan sama TBC nya juga hehe...marvelous..t.deti :-) (it's me t.deti...idah ODOA ummi faza)

    BalasHapus