Rabu, 11 Mei 2016

Secangkir Kopi Terakhir


Oleh: Deti Rismayanti
Sejak bergabung bersama keluargaku di meja makan, entah sudah keberapa kali aku mencuri-curi pandang Aqeela, gadis yang duduk berseberangan denganku. Posisi duduknya berahadapan langsung denganku.
Berbeda dengan sikap gadis itu yang tampak gembira saat Ibu mengenalkan aku sebagai kakaknya, sejak dulu aku tak pernah suka gadis itu. Atau lebih tepatnya aku marah dan membenci fakta bahwa gadis itu telah menjadi adikku.
Ibu gadis itu adalah sahabat lama Ibu, pada suatu hari mereka kembali dipertemukan di tempat dan dalam situasi yang tidak bisa dikatakan baik. Saat itu mereka kembali bertemu di rumah sakit, saat ibu gadis itu dilarikan ke sana dalam kondisi berlumuran darah dan tak sadarkan diri akibat sebuah kecelakaan lalu lintas.
Ternyata sahabat lama Ibu itu tengah hamil tua. Lalu dibawalah beliau ke dalam ruang operasi untuk dilakukan proses persalinan secara caesar secepatnya. Dan mimpi buruk pun menjelma realita, sahabat lama ibuku itu telah meraih syahidnya setelah menghadiahi bumi dengan lahirnya seorang putri yang kemudian kuketahui bernama Aqeela. Ya, setidaknya menurut ayahnya, bayi itu adalah anugerah. Hadiah dari Tuhan untuknya. 
Sementara itu, Ibu masih dalam masa berduka karena baru beberapa hari kehilangan Noura, adik perempuanku yang terlahir prematur dengan kondisi yang sangat lemah, sehingga Allah kembali mengambil bayi malang itu kembali ke pangkuanNya.
Meskipun mustahil jika Ibu mensyukuri kematian sahabatnya, tapi aku melihat dengan jelas kebahagiaan yang terpancar di wajah Ibu saat ayah gadis itu mengizinkan Ibu menyusui Aqeela sampai bayi itu berusia dua tahun. Sementara aku kala itu hanya bisa marah dan cemburu, aku tidak ingin adik mana pun, Noura atau Aqeela. Aku tak mau ada mereka dalam hidupku, karena aku tak ingin membagi cinta dan kasih sayang kedua orang tuaku dengan siapa pun.
“Pokoknya aku nggak mau punya adik!” teriakku kala itu, saat Aqeela dan ayahnya menginap di rumahku.
Aku pikir sejak itulah aku membencinya, bahkan hingga sekarang. Dan bukan hanya gadis itu, aku pun sempat marah dan membenci kedua orangtuaku, karena mereka tak peduli bagaimana perasaanku. Dulu atau pun sekarang.
“Kok nggak dimakan si, A?” tegur Aqeela tiba-tiba. Menyentakkanku  kembali ke masa kini.
“Eh?” sahutku terkejut.
“Masakanku nggak enak ya?” tanya gadis itu dengan ekpresi kecewa.
Aku memandang Ayah dan Ibu secara bergantian, penasaran dengan ekspresi wajah mereka.
“Aqeela udah kerja keras lho, masakin ini buat kita.”
Seperti biasanya, Ibu selalu di pihak gadis itu. Ayah hanya tersenyum.
“Enak kok! Hanya saja aku belum lapar.” Aku sengaja mengatakannya untuk menghibur Ibu. Kalau gitu, aku duluan ya? Masih ada kerjaan.”
Aku bangkit meninggalkan meja makan, menaiki anak tangga menuju kamar. Berada di meja makan yang sama dengan gadis itu membuat nafsu makanku menguap begitu saja.
***
Begitu mendengar gadis itu kuliah di kampus yang jaraknya dekat dengan rumah kami, Ibu mengajak gadis itu untuk tinggal bersama kami sebagai keluarga. Berbeda denganku, kedua orangtuaku sangat menyukainya bahkan mencintainya seperti anak kandung mereka sendiri.
Sudah tengah malam, harusnya saat ini aku sudah tenggelam dalam dunia mimpi, tapi faktanya, sekarang aku sama sekali tak bisa membujuk mataku untuk terpejam. Sepertinya itu karena aku lapar. Baiklah, aku sudah tak tahan lagi, dan aku bukan tipe orang yang bisa tidur dalam kondisi lapar.
Aku keluar dari kamar, menuruni tangga dan belok ke ruang makan. Mencari tau apakah ada makanan yang bisa kumakan. Sialnya taka ada apa pun di meja makan. Ketika aku berbalik hendak kembali ke kamar, tubuhku menabrak sesuatu yang secara refleks meneriakkan kalimat istighfar.
“A Fiqli? Ngapain, A? Laper ya?” katanya sambil menekan dada.
Ternyata gadis cerewet itulah yang baru saja bertabrakan denganku.
“Makanan yang tadi udah abis, A. Ayah sama Ibu bilang masakanku enak banget, jadi langsung habis.”  
Lihatlah bagaimana gadis itu menyebut orangtuaku Ayah dan Ibu. Gadis itu mengatakannya dengan lancar seolah dia benar-benar putri mereka.
“Hm…, gimana kalau aku buatkan mi instan aja? Biar cepat? Atau Aa mau aku masakin yang lain? Aa mau aku masakin apa?” pertanyaannya bertubi-tubi. Membuat kepalaku pening. Dasar gadis sok akrab!
“Nggak usah, aku ke sini cuma mau ambil minum kok,” ketusku.
Aku meraih sebuah gelas, kemudian mengisinya dengan air putih. Saat aku nyaris mendekati pintu tiba-tiba aku merasa dikhianati labungkun sendiri. Sebuah keributan yang berasal dari perutku terdengar nyaring di tengah heningnya malam.
Aku yakin gadis sok akrab itu mendengarnya juga, tapi aku tidak ingin memastikan apa pun. Kuayunkan langkah lebih cepat, berjalan kembali ke kamar.
Apa aku malu? Sepertinya ya. Sedikit. Tapi tak apa. Lagipula aku tak pernah peduli apa yang dipikirkannya tentangku.
Aku memaksakan diri untuk tidur, namun keributan di perutku kian memecah sunyi. Tiba-tiba aku mendengar pintu kamarku diketuk.
Ternyata gadis itu.
“Ini, A. Aku bawain teh chamomile sama roti bakar ala chef Aqeela. Bekas makannya Aa simpan sendiri ke dapur ya…! Aku udah mau tidur. Bon appetite!” katanya sambil menyodorkan nampan kecil berisi menu yang disebutkannya.
Dia berjalan menjauhi kamarku. Aku masih berdiri di ambang pintu kamar sambil memegang nampan tersebut dengan kedua tangan. Tanpa sadar aku terus memperhatikannya berjalan membelakangiku. Namun tiba-tiba ia menghentikan langkah dan memutar tubuhnya perlahan dan menatapku, lalu tersenyum.
“Met malem ya, assalaamu’alaykum,” katanya sambil melambaikan tangan kanan yang diangkatnya setinggi bahu.    
Ia kembali membalikkan badan dan melangkah menuju kamarnya yang berada di dekat tangga. Posisi kamarnya di arah pukul tiga dari kamarku.
Tiba-tiba sebuah perasaan aneh menyelinap ke dalam hatiku. Sepertinya kebencianku padanya adalah sebuah kesalahan. Gadis itu tampak tulus, kenapa aku harus membencinya? Aku rasa ketulusannya telah berhasil melunakkan hatiku yang batu.
***
Pagi ini aku terbangun dengan perasaan yang lebih lapang. Ketulusan gadis itu tampaknya benar-benar telah berhasil meruntuhkan benteng keangkuhan yang selama ini membuatku buta untuk melihat ketulusannya.
“A, aku udah nyiapin sarapan di meja makan. Sarapan dulu yuk!” suara jernih gadis itu terdengar di balik daun pintu kamarku.
Biasanya suara itu selalu membuat pagiku terasa buruk, namun hari ini lain. Tak seperti biasanya, suara itu mulai terdengar nyaman di telingaku. Bahkan terdengar seperti kicauan burung yang menyemarakkan indahnya pagi di pedesaan yang damai dan sejahtera. Begitu riang dan penuh semangat.
Sepertinya mulai sekarang aku akan merindukan suara ini setiap pagi. Aku tidak bisa mencegah diriku untuk tidak tersenyum.
Aku bergegas membuka pintu kamar. Ragu-ragu gadis itu melongok ke dalam kamar melewati pundakku. Lalu ia menyunggingkan sebuah senyum yang gagal kuterjemahkan. Bibir mungilnya membentuk sebuah lengkungan bulan sabit yang sebelumnya selalu membuatku makin membencinya. Dan satu keanehan lainnya lagi, tak lagi benci, kali ini aku melihat hal itu sebagai pemandangan yang indah. Khususnya di pagi ini.
“Ayah dan Ibu udah nunggu kita di meja makan,” katanya riang.
Gadis itu melangkah lebih dulu, membiarkanku mengikuti langkah-langkah kaki kecilnya yang jenjang dari belakang.
“Fiqli, hari ini Ibu sama Ayah mau ke rumah Nenek. Kamu baik-baik ya sama Aqeela. Jagain adiknya! Ibu harap kamu nggak jutekin Aqeela terus. Emangnya kamu nggak sayang sama adik kamu?” tutur Ibu setelah menelan makanan yang sempat memenuhi setengah rongga mulutnya. Beliau menyampaikan pesan yang membuatku bingung harus memberikan tanggapan seperti apa.
“Aqeela, kamu gak apa-apa kan Ibu tinggal dulu? Nanti kamu mau Ibu belikan oleh-oleh apa?”
Nada bicara Ibu pada gadis itu selalu lebih lembut dari nada bicaranya saat sedang bicara padaku.
“Gak apa-apa kok, Bu. Salam ya buat keluarga di sana. Aqeela gak minta oleh-oleh apa-apa. Yang penting Ibu sama Ayah kembali dengan selamat.” Gadis itu tersenyum hangat pada ibuku.
“Maa syaa, Allah…! Putri Ibu memang shalihah.” Ibu menggenggam tangan Aqeela sepenuh rasa.
Dan aku tak lagi cemburu.
“Aku berangkat!” aku bangkit dari dudukku.
“Kopinya belum diminum?” Gadis itu menunjuk secangkir kopi tanpa ampas yang berada di sebelah piring makanku.
Aku melirik Ayah dan Ibu bergantian, lalu mengikuti arah telunjuknya, menatap secangkir kopi yang aromanya menggelitik cuping hidungku.
Aku menyesap isinya perlahan, menikmati cita rasa dan aroma kopi yang begitu pas dengan seleraku.
Tak terasa secangkir kopi itu telah melewati kerongkonganku dengan bebas hambatan.
“Alhamdulillah…! Aku seneng Aa suka kopi yang aku bikin!” seru gadis itu riang.
“Selamat berangkat kerja…! Pulang cepat yaaa!” cerocos gadis itu dengan riang.
Tiba-tiba aku merasa wajahku memanas. Aku kembali menatap Ayah dan Ibu, kali ini dengan perasaan salah tingkah. Mereka tersenyum penuh arti.
Sepertinya menjadi kakak Aqeela bukanlah sesuatu yang buruk. Perlahan aku mulai mensyukurinya, dan aku merasa pagi ini adalah salah satu pagi terbaik dalam hidupku. Dia membuat langit hatiku begitu cerah pagi ini.
***
Saat aku kembali ke rumah, listrik di komplek rumah kami padam. Seperti tidak ada siapa-siapa di rumah. Apa Aqeela sedang ke luar? Aku membuka pintu dengan kunci cadangan yang selalu kubawa. Begitu aku memasuki rumah, ketiadaan sumber cahaya membuatku tak bisa melihat apa pun. Setelah mengunci pintu kembali, aku berjalan pelan dengan mengandalkan bantuan penerangan dari ponselku. Aku bergerak langsung menuju kamar.
Ketika sampai di ujung tangga, sebuah suara memaksaku untuk menghentikan langkah sejenak. Aku mendengar seseorang menangis. Aku yakin suara itu berasal dari kamar Aqeela.
Aku mengetuk pintu kamarnya. Ingin memastikan.
“Aqeela, kamu di dalam?” tanyaku dari balik pintu kamarnya.
“A Fiqli?” suara tangis itu berhenti.
“Kamu kenapa?” tanyaku cepat. Aku tak bisa menahan diriku untuk tidak khawatir.
Aku mendengar suara kunci terbuka dari dalam lalu gadis itu menabrakkan dirinya ke tubuhku.
“Aku takut, A…!” Gadis itu menangis dalam pelukanku
Aku terkejut bukan main, tapi aku berusaha untuk menguasai diriku dan mencoba untuk bersikap tenang. Aku melingkarkan sebelah tanganku ke bawah pundaknya dan menepuk-nepuknya pelan, berusaha membuatnya tenang.
Aku tak tahu apa yang membuat gadis ini sedemikian takut, yang aku tahu sekujur tubuh gadis ini bergemetar dahsyat. Aku menyentuh kepalanya yang menempel ke dadaku.
Jujur, aku terkejut dengan tindakanku sendiri. Yang aku tahu, aku sangat ingin melindunginya. Itu saja.
***
 Setelah aku menyelesaikan pekerjaan di kantor, hari ini aku pulang cepat. Khawatir listrik di rumah kami tiba-tiba padam lagi dan Aqeela hanya sendirian di rumah, tapi untunglah semua baik-baik saja. 
 “Jadi, kenapa kamu takut banget sama gelap?” pertanyaanku di sela percakapan kami malam ini.

  • Aqeela mengalihkan pandangannya dari TV, lalu menoleh ke arahku yang duduk di sebelah sofa yang didudukinya. 
“Oh, Itu.” Wajahnya terlihat serius.
“Hm…” aku menunggunya menjelaskan.
“Waktu kecil aku takut banget sama hantu yang suka muncul di waktu gelap, seperti yang ada di film-film.” Jawabnya dengan wajah serius.
Aku tak bisa menahan diriku untuk tidak tertawa.
“Udah puas ketawanya?” gadis itu mendengus sambil menyilangkan tangan di dadanya.
Aku hanya mengangguk ringan saat mata gadis itu membulat. Mungkin gadis itu bermaksud mengintimidasi, tapi wajahnya justru malah terlihat lucu.
“Maaf, maaf, aku nggak bermaksud ngetawain kamu kok. Tadi tiba-tiba aja aku ingat film komedi yang pernah aku tonton.” Aku terpaksa membuat alasan palsu. Tak ingin membuatnya tersinggung.
“Tapi aku udah nggak takut lagi kok sama hantu. Di dunia ini kan nggak ada hantu.” Lanjutnya kemudian.
Aku mendapati diriku melebarkan senyum. Antusias mendengarkannya bercerita.
Lebih dari itu, sekarang aku takut sama monster berkedok manusia yang suka melakukan kejahatan di saat gelap.” Sepertinya bulu kuduk gadis itu meremang saat mengatakannya.
“Setiap hari ada saja berita pembunuhan, perampokan, pemerkosaan, dan berbagai kejahatan lainnya. Dan setiap kali gelap, apalagi kalau aku sendirian, aku selalu dihantui ketakutan yang amat sangat. Aku takut ancaman berbagai tindak kejahatan itu sedang mengintaiku. Itu aja.” Gadis itu menyelesaikan ceritanya dengan wajah kuyu.
Aku bangkit dari dudukku, mengulurkan sebelah tangan. Aku bermaksud mengajaknya pergi ke balkon. Ternyata gadis itu menyambut uluran tanganku dan mengikutiku berjalan ke luar menuju balkon.
“Kamu lihat, bintangnya banyak banget kan?” tanyaku sambil menunjuk ke langit yang dipenuhi kerlap kerlip bebintang.
Kulihat ia sedikit menyipitkan mata saat semilir angin dengan lembut menyapu wajahnya.
“Hm...,” gumamnya pelan sambil menatap ke kejauhan.
“Aku suka banget liat bintang.” Akunya mantap.
“Dan makin gelap langit itu, binar gemintang pun akan semakin indah. Dan sebetulnya masih ada banyak lagi keindahan lain yang bisa kita nikmati saat gelap. Kunang-kunang dan kembang api, misalnya.” Aku memandang wajahnya lebih lekat.   
Dia tak langsung merespons. Hening menyela pembicaraan kami. Kulihat gadis itu tertunduk dalam.
“Aku rasa mulai sekarang aku nggak akan takut lagi sama gelap, tapi kabar buruknya adalah...” gadis itu menundukkan wajahnya
Aku bersabar menunggunya menuntaskan kalimatnya.
 “Aku yakin nggak akan takut gelap lagi, tapi masalahnya, sekarang aku harus menghadapi ketakutan yang lebih besar.”
Gadis itu melepaskan tanggannya yang ternyata masih ada dalam genggamanku.
Aku menangkap sesuatu yang aneh dari ucapannya. Kuperhatikan dia memutar badannya membelakangiku dan berjalan sendiri ke dalam rumah tanpa sedikit pun menoleh ke arahku. Aku mengikutinya tanpa banyak bertanya.
“Aku masuk dulu ya? Met istirahat ya, A!” Aqeela melambaikan tangan tepat di depan wajahku. Wajahnya terlihat ragu.
Sekarang aku yang tak langsung merespons. Sesuatu dalam kepalaku meminta untuk dipertimbangkan.
Sesaat setelah Aqeela membalik badan, aku menarik sikut gadis itu dan membuat posisi kami kembali berhadapan.
“Aqeela.” Aku menatap ke dalam bola matanya.
“Mulai dari sekarang aku akan berusaha jadi kakak terbaik untukmu.” Aku bersungguh-sungguh.
Aqeela mengernyit sambil menatap ke dalam mataku. Aku merasa ada yang tak beres dengan sorot mata gadis itu.
Gadis itu masih menatap ke dalam mataku. Aku tak kuasa lagi mengendalikan diriku agar tak melakukan ini. Sebuah kecupan kudaratkan di keningnya yang mulus.
“Sekarang tidurlah! Besok kamu harus kuliah kan?”
Kulihat Aqeela terbelalak. Aku salah tingkah dibuatnya. Lalu aku meniup sepasang mata yang agak sipit itu secara spontan.
“Jangat melototin aku kayak gitu! Aku gemas melihatnya,” kataku salah tingkah.
“Astaghfullah...!” gadis itu terperanjat dan mundur selangkah. Suaranya terdengar aneh di telingaku.
Gadis itu menatapku tepat di manik mata. Ada nada tidak suka yang begitu kentara dari tekanan suaranya. “Kita ini sodara! Aa gak lupa itu kan?” Pelupuk mata gadis beralis tipis itu berkaca-kaca.
“Kenapa? Apa seorang kakak gak boleh nyium kening adiknya? Bukankah itu biasa?” aku mencari pembenaran atas tindakanku.
“Aku melakukannya karena kamu adikku. Apa jangan-jangan...,” kalimatku mengambang. Aku merasa tak ada padanan kata apa pun yang tepat untuk menyempurnakannya.
***
Sejak malam itu, Aqeela terus menjaga jarak denganku. Bahkan dua hari ini Aqeela menginap di kosan seorang teman kuliahnya, aku merasa terjebak di ruang hampa. Ketiadaan Aqeela di rumah ini membuat segala sesuatu tidak menarik lagi. Pikiranku kacau hingga pekerjaan di kantor pun ikut berantakan.
Hari ini aku sengaja lembur. Kalau bisa aku tidak ingin pulang, karena kembali ke rumah sama saja dengan menjebloskan diri ke dalam ruang hampa. Sangat menyiksa dan menyesakkan. Tapi sayangnya ada banyak alasan yang membuatku harus selalu pulang ke rumah.
Selang beberapa jam, aku sudah tiba di depan rumah. Sesuai dugaan. Kesepian langsung menyambutku. Dengan perasaan layu aku membiarkan diriku menyusuri lorong hampa yang terbentang di hadapanku.
Aku menghentikan langkah selama beberapa jenak begitu tiba di depan kamarnya. Aku rindu.
***
“Met pagi...!”
Suara jernih itu langsung menyambut begitu aku tiba di ruang makan.
Aku merasa jantungku sempat berhenti bekerja saat gadis itu menyapaku. “Kamu udah pulang?” tanyaku dengan perasaan terkejut, canggung, bingung, dan bahagia yang berpadu jadi satu.
“Kemarin sore.” Jawabnya singkat.
“Semalam Aa pulang jam berapa?” tanya gadis itu dengan tenang. Seolah tidak ada yang terjadi. “Aku pasti udah tidur pas Aa pulang.” Gadis berkacamata itu mengulas senyum.
Thanks for coming back,” kataku setulus hati.
“Sebenarnya aku mau sekalian pamit, A. Aku nggak bisa tinggal di sini lagi. Aku mau kos lagi sama temen aku,” jawabannya di luar dugaanku sambil terus mengaduk kopi yang ditatapnya dengan tatapan kosong.
“K-ke... kenapa? Apa karena aku? Kita bisa bicarakan dulu baik-baik kan?” kataku buru-buru.
“Sebetulnya, aku pergi bukan karena siapa-siapa. Aku pergi untuk diriku sendiri.”
Aku makin terperangah. Aku bergeming membiarkan otakku mencerna apa yang baru saja dikatakannya.
“Aku yang butuh jarak ini,” lirihnya lembut. Aku melihat dia berusaha menyembunyikan matanya yang berkaca-kaca.
Selama beberapa saat aku tak mendengar suara apa pun selain debar jantungku sendiri yang beradu dengan dentingan sendok yang berputar menyentuh dinding cangkir kopi yang diaduknya dengan irama yang tetap.
Tak lama kemudian gadis itu menyodorkan secangkir kopi itu ke depan wajahku.
“Semoga rasanya senikmat biasanya.” Senyumnya begitu dingin.
 Suara gadis itu terdengar lemah dan lembut saat mengucapkan salam sebelum  memutar tubuhnya dan berjalan meninggalkan meja makan. Sementara aku beku. Aku sendiri tak yakin dengan apa yang sedang berputar-putar di pikiranku saat ini.
Kusaksikan punggung gadis itu terlihat semakin kecil hingga menghilang dari pandanganku. Meninggalkanku yang membeku dengan sejuta tanda tanya.

TAMAT





6 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. "Aku takut monster berkedok manusia" <- Kalimat yang ini 'jleb' banget. Kalo aku jadi lakinya pasti langsung 'kena' jantungku. Keren Mbak Deti. Bisa konsisten ngisi blog.

    BalasHapus
  3. makasih ya udah sempatkan baca. makasih juga buat komentar dan tanggapannya.

    aamiin. mudah2an ke depannya bisa lebih konsisten lagi. :)

    BalasHapus
  4. bagusss, detailnya dapet. stylistik metafor untuk tulisan berikutnya lebih ngangkat ya....

    BalasHapus
  5. Alhamdulillah.... Makasih ya... Abah udah mampir dan nyicipin secangkir kopi terbaik di sini. Hehe...

    Siap, Bah! InsyaAllah Deti belajar terus. Mudah2an Deti bisa buat tulisan yg lebih baik dr ini. Mohon bimbingnannya ya, Bah...! ^--^

    BalasHapus
  6. Alhamdulillah.... Makasih ya... Abah udah mampir dan nyicipin secangkir kopi terbaik di sini. Hehe...

    Siap, Bah! InsyaAllah Deti belajar terus. Mudah2an Deti bisa buat tulisan yg lebih baik dr ini. Mohon bimbingnannya ya, Bah...! ^--^

    BalasHapus