Oleh: Deti Rismayanti
Sejak
bergabung bersama keluargaku di meja makan, entah sudah keberapa kali aku
mencuri-curi pandang Aqeela, gadis yang duduk berseberangan denganku. Posisi duduknya berahadapan langsung denganku.
Berbeda dengan sikap gadis itu yang tampak gembira saat
Ibu mengenalkan aku sebagai kakaknya, sejak dulu aku tak
pernah suka gadis itu. Atau lebih tepatnya aku marah dan membenci fakta bahwa gadis itu telah menjadi adikku.
Ibu gadis itu adalah sahabat lama Ibu, pada suatu hari
mereka kembali dipertemukan di tempat dan dalam situasi yang tidak bisa
dikatakan baik. Saat itu mereka kembali bertemu di rumah sakit, saat ibu gadis
itu dilarikan ke sana dalam kondisi berlumuran darah dan tak sadarkan diri akibat
sebuah kecelakaan lalu lintas.
Ternyata sahabat lama Ibu itu tengah hamil tua. Lalu
dibawalah beliau ke dalam ruang operasi untuk dilakukan proses persalinan secara
caesar secepatnya. Dan mimpi buruk pun
menjelma realita, sahabat lama ibuku itu telah meraih syahidnya setelah
menghadiahi bumi dengan lahirnya seorang putri yang kemudian kuketahui bernama
Aqeela. Ya, setidaknya menurut ayahnya, bayi itu adalah anugerah. Hadiah dari Tuhan untuknya.
Sementara itu, Ibu masih dalam masa berduka karena
baru beberapa hari kehilangan Noura, adik perempuanku yang terlahir prematur
dengan kondisi yang sangat lemah, sehingga Allah kembali mengambil bayi malang itu kembali ke pangkuanNya.
Meskipun
mustahil jika Ibu mensyukuri kematian sahabatnya, tapi aku melihat dengan jelas
kebahagiaan yang terpancar di wajah Ibu saat ayah gadis itu mengizinkan Ibu menyusui Aqeela sampai bayi itu berusia dua tahun. Sementara aku kala itu hanya bisa marah
dan cemburu, aku tidak ingin adik mana pun, Noura atau Aqeela. Aku tak mau ada
mereka dalam hidupku, karena aku tak ingin membagi cinta dan kasih sayang kedua
orang tuaku dengan siapa pun.
“Pokoknya aku nggak mau punya adik!” teriakku kala
itu, saat Aqeela dan ayahnya menginap di rumahku.
Aku pikir sejak itulah aku membencinya, bahkan hingga
sekarang. Dan bukan hanya gadis itu, aku pun sempat marah dan membenci kedua
orangtuaku, karena mereka tak peduli bagaimana perasaanku. Dulu atau pun
sekarang.
“Kok
nggak dimakan si, A?” tegur Aqeela tiba-tiba.
Menyentakkanku
kembali ke masa kini.
“Eh?” sahutku terkejut.
“Masakanku
nggak enak ya?” tanya gadis
itu dengan ekpresi kecewa.
Aku memandang Ayah dan Ibu secara bergantian,
penasaran dengan ekspresi wajah mereka.
“Aqeela udah kerja keras lho, masakin ini buat kita.”
Seperti biasanya, Ibu selalu di pihak gadis itu. Ayah
hanya tersenyum.
“Enak
kok! Hanya saja aku belum
lapar.” Aku sengaja mengatakannya untuk menghibur Ibu. “Kalau gitu, aku duluan
ya? Masih ada kerjaan.”
Aku bangkit meninggalkan meja
makan, menaiki anak tangga menuju kamar. Berada di meja makan yang sama dengan gadis itu membuat nafsu makanku menguap
begitu saja.
***
Begitu
mendengar gadis itu kuliah di
kampus yang jaraknya dekat dengan rumah kami, Ibu mengajak gadis itu untuk tinggal bersama kami sebagai keluarga.
Berbeda denganku, kedua orangtuaku sangat menyukainya bahkan mencintainya
seperti anak kandung mereka sendiri.
Sudah tengah malam, harusnya saat ini aku sudah
tenggelam dalam dunia mimpi, tapi faktanya, sekarang aku sama sekali tak bisa
membujuk mataku untuk terpejam. Sepertinya itu karena aku lapar. Baiklah, aku
sudah tak tahan lagi, dan aku bukan tipe orang yang bisa tidur dalam kondisi
lapar.
Aku keluar dari kamar, menuruni tangga dan belok ke
ruang makan. Mencari tau apakah ada makanan yang bisa kumakan. Sialnya taka ada
apa pun di meja makan. Ketika aku berbalik hendak kembali ke kamar, tubuhku menabrak sesuatu yang secara refleks
meneriakkan kalimat istighfar.
“A Fiqli? Ngapain, A? Laper ya?”
katanya sambil menekan dada.
Ternyata gadis cerewet itulah yang baru saja
bertabrakan denganku.
“Makanan yang tadi udah abis, A. Ayah sama Ibu bilang
masakanku enak banget, jadi langsung habis.”
Lihatlah bagaimana gadis itu menyebut orangtuaku Ayah
dan Ibu. Gadis itu mengatakannya dengan lancar seolah dia benar-benar putri
mereka.
“Hm…, gimana kalau aku buatkan mi instan aja? Biar
cepat? Atau Aa mau aku masakin yang lain? Aa mau aku masakin apa?”
pertanyaannya bertubi-tubi. Membuat kepalaku pening. Dasar gadis sok akrab!
“Nggak usah, aku ke sini cuma mau ambil minum kok,”
ketusku.
Aku meraih sebuah gelas, kemudian mengisinya dengan
air putih. Saat aku nyaris mendekati pintu tiba-tiba aku merasa dikhianati
labungkun sendiri. Sebuah keributan yang berasal dari perutku terdengar nyaring
di tengah heningnya malam.
Aku yakin gadis sok akrab itu mendengarnya juga, tapi
aku tidak ingin memastikan apa pun. Kuayunkan langkah lebih cepat, berjalan
kembali ke kamar.
Apa aku malu? Sepertinya ya. Sedikit. Tapi tak apa.
Lagipula aku tak pernah peduli apa yang dipikirkannya tentangku.
Aku memaksakan diri untuk tidur, namun keributan di
perutku kian memecah sunyi. Tiba-tiba aku mendengar pintu kamarku diketuk.
Ternyata gadis itu.
“Ini, A. Aku bawain teh chamomile sama roti bakar ala chef Aqeela. Bekas makannya Aa simpan sendiri ke dapur ya…! Aku
udah mau tidur. Bon appetite!”
katanya sambil menyodorkan nampan kecil berisi menu yang disebutkannya.
Dia berjalan menjauhi kamarku. Aku masih berdiri di
ambang pintu kamar sambil memegang nampan tersebut dengan kedua tangan. Tanpa
sadar aku terus memperhatikannya berjalan membelakangiku. Namun tiba-tiba ia
menghentikan langkah dan memutar tubuhnya perlahan dan menatapku, lalu
tersenyum.
“Met malem ya, assalaamu’alaykum,”
katanya sambil melambaikan tangan kanan yang diangkatnya setinggi bahu.
Ia kembali membalikkan badan dan melangkah menuju
kamarnya yang berada di dekat tangga. Posisi kamarnya di arah pukul tiga dari
kamarku.
Tiba-tiba sebuah perasaan aneh menyelinap ke dalam
hatiku. Sepertinya kebencianku padanya adalah sebuah kesalahan. Gadis itu
tampak tulus, kenapa aku harus membencinya? Aku rasa ketulusannya telah berhasil
melunakkan hatiku yang batu.
***
Pagi ini aku terbangun dengan perasaan yang lebih
lapang. Ketulusan gadis itu tampaknya benar-benar telah berhasil meruntuhkan benteng
keangkuhan yang selama ini membuatku buta untuk melihat ketulusannya.
“A,
aku udah nyiapin sarapan di meja makan. Sarapan dulu yuk!” suara jernih gadis itu terdengar di balik daun pintu
kamarku.
Biasanya suara itu selalu membuat pagiku terasa buruk,
namun hari ini lain. Tak seperti biasanya, suara itu mulai terdengar nyaman di
telingaku. Bahkan terdengar seperti kicauan burung yang menyemarakkan indahnya
pagi di pedesaan yang damai dan sejahtera. Begitu riang dan penuh semangat.
Sepertinya mulai sekarang aku akan merindukan suara ini
setiap pagi. Aku tidak bisa mencegah diriku untuk tidak tersenyum.
Aku bergegas membuka pintu kamar. Ragu-ragu gadis itu melongok ke
dalam kamar melewati pundakku.
Lalu ia menyunggingkan sebuah senyum yang gagal
kuterjemahkan. Bibir mungilnya membentuk sebuah
lengkungan bulan sabit yang sebelumnya
selalu membuatku makin membencinya. Dan satu keanehan lainnya lagi, tak lagi benci, kali
ini aku melihat hal itu sebagai pemandangan yang indah. Khususnya di pagi ini.
“Ayah
dan Ibu udah nunggu kita di meja makan,” katanya
riang.
Gadis
itu melangkah lebih dulu, membiarkanku
mengikuti langkah-langkah kaki kecilnya
yang jenjang dari belakang.
“Fiqli, hari ini Ibu sama Ayah mau ke rumah Nenek.
Kamu baik-baik ya sama Aqeela. Jagain adiknya! Ibu harap kamu nggak jutekin
Aqeela terus. Emangnya kamu nggak sayang sama adik kamu?” tutur Ibu setelah
menelan makanan yang sempat memenuhi setengah rongga mulutnya. Beliau
menyampaikan pesan yang membuatku bingung harus memberikan tanggapan seperti
apa.
“Aqeela, kamu gak apa-apa kan Ibu tinggal dulu? Nanti kamu
mau Ibu belikan oleh-oleh apa?”
Nada bicara Ibu pada gadis itu selalu lebih lembut
dari nada bicaranya saat sedang bicara padaku.
“Gak apa-apa kok, Bu. Salam ya buat keluarga di sana.
Aqeela gak minta oleh-oleh apa-apa. Yang penting Ibu sama Ayah kembali dengan
selamat.” Gadis itu tersenyum hangat pada ibuku.
“Maa syaa, Allah…! Putri Ibu memang shalihah.” Ibu
menggenggam tangan Aqeela sepenuh rasa.
Dan aku tak lagi cemburu.
“Aku berangkat!” aku
bangkit dari dudukku.
“Kopinya
belum diminum?” Gadis itu menunjuk secangkir kopi tanpa ampas yang berada di
sebelah piring makanku.
Aku
melirik Ayah dan Ibu bergantian, lalu mengikuti arah telunjuknya, menatap secangkir kopi yang aromanya menggelitik cuping
hidungku.
Aku menyesap isinya perlahan, menikmati cita rasa dan
aroma kopi yang begitu pas dengan seleraku.
Tak terasa secangkir kopi itu telah melewati
kerongkonganku dengan bebas hambatan.
“Alhamdulillah…! Aku seneng Aa suka kopi yang aku
bikin!” seru gadis itu riang.
“Selamat berangkat kerja…! Pulang cepat yaaa!” cerocos
gadis itu dengan riang.
Tiba-tiba
aku merasa wajahku memanas. Aku kembali menatap Ayah dan Ibu, kali ini dengan
perasaan salah tingkah. Mereka tersenyum penuh arti.
Sepertinya menjadi kakak Aqeela
bukanlah sesuatu yang buruk. Perlahan aku mulai mensyukurinya, dan aku merasa
pagi ini adalah salah satu pagi terbaik dalam hidupku. Dia
membuat langit hatiku begitu cerah pagi ini.
***
Saat aku kembali ke rumah, listrik di komplek rumah
kami padam. Seperti tidak ada siapa-siapa di rumah. Apa Aqeela sedang ke luar? Aku membuka pintu dengan
kunci cadangan yang selalu kubawa. Begitu aku memasuki rumah, ketiadaan sumber
cahaya membuatku tak bisa melihat apa pun. Setelah mengunci pintu kembali, aku
berjalan pelan dengan mengandalkan bantuan penerangan dari ponselku. Aku bergerak
langsung menuju kamar.
Ketika sampai di ujung tangga, sebuah suara memaksaku
untuk menghentikan langkah sejenak. Aku mendengar seseorang menangis. Aku yakin
suara itu berasal dari kamar Aqeela.
Aku mengetuk pintu kamarnya. Ingin memastikan.
“Aqeela, kamu di dalam?” tanyaku dari balik pintu
kamarnya.
“A Fiqli?” suara tangis itu berhenti.
“Kamu kenapa?” tanyaku cepat. Aku tak bisa menahan diriku
untuk tidak khawatir.
Aku mendengar suara kunci terbuka dari dalam lalu gadis
itu menabrakkan dirinya ke tubuhku.
“Aku takut, A…!” Gadis itu
menangis dalam pelukanku
Aku terkejut bukan main, tapi aku berusaha untuk
menguasai diriku dan mencoba untuk bersikap tenang. Aku melingkarkan sebelah
tanganku ke bawah pundaknya
dan menepuk-nepuknya pelan, berusaha membuatnya tenang.
Aku tak tahu apa yang membuat gadis ini sedemikian
takut, yang aku tahu sekujur tubuh gadis ini bergemetar dahsyat. Aku menyentuh
kepalanya yang menempel ke dadaku.
Jujur,
aku terkejut dengan tindakanku sendiri. Yang aku tahu, aku sangat ingin
melindunginya. Itu saja.
***
Setelah aku menyelesaikan pekerjaan di kantor, hari ini aku pulang cepat. Khawatir listrik di rumah kami tiba-tiba padam lagi dan Aqeela hanya sendirian di rumah, tapi untunglah semua baik-baik saja.
“Jadi, kenapa kamu takut banget sama gelap?” pertanyaanku di sela percakapan kami malam ini.
“Jadi, kenapa kamu takut banget sama gelap?” pertanyaanku di sela percakapan kami malam ini.
- Aqeela mengalihkan pandangannya dari TV, lalu menoleh ke arahku yang duduk di sebelah sofa yang didudukinya.
“Oh, Itu.” Wajahnya terlihat serius.
“Hm…” aku menunggunya menjelaskan.
“Waktu kecil aku takut
banget sama hantu yang suka muncul di waktu gelap, seperti yang ada di
film-film.” Jawabnya dengan wajah serius.
Aku tak bisa menahan diriku untuk tidak tertawa.
“Udah puas ketawanya?” gadis itu mendengus sambil
menyilangkan tangan di dadanya.
Aku
hanya mengangguk ringan saat mata gadis itu membulat. Mungkin gadis itu
bermaksud mengintimidasi, tapi wajahnya justru
malah
terlihat lucu.
“Maaf, maaf, aku nggak bermaksud ngetawain kamu kok.
Tadi tiba-tiba aja aku ingat film komedi yang pernah aku
tonton.” Aku terpaksa membuat alasan palsu.
Tak ingin membuatnya tersinggung.
“Tapi aku udah nggak takut lagi kok sama hantu. Di dunia ini kan nggak ada hantu.”
Lanjutnya kemudian.
Aku mendapati diriku
melebarkan senyum. Antusias mendengarkannya
bercerita.
“Lebih dari itu, sekarang
aku takut sama monster berkedok manusia yang suka melakukan kejahatan di saat gelap.”
Sepertinya bulu kuduk gadis itu meremang
saat mengatakannya.
“Setiap hari ada saja berita pembunuhan, perampokan,
pemerkosaan, dan berbagai kejahatan lainnya. Dan setiap kali gelap, apalagi
kalau aku sendirian, aku selalu
dihantui ketakutan yang amat sangat. Aku takut ancaman berbagai tindak kejahatan itu
sedang mengintaiku. Itu aja.” Gadis itu menyelesaikan ceritanya dengan wajah
kuyu.
Aku bangkit dari dudukku, mengulurkan sebelah tangan.
Aku bermaksud mengajaknya pergi ke balkon. Ternyata gadis itu menyambut uluran
tanganku dan mengikutiku berjalan ke luar menuju balkon.
“Kamu lihat, bintangnya banyak banget kan?” tanyaku
sambil menunjuk ke langit yang dipenuhi kerlap kerlip bebintang.
Kulihat ia sedikit menyipitkan mata saat semilir angin
dengan lembut menyapu wajahnya.
“Hm...,”
gumamnya pelan sambil menatap ke kejauhan.
“Aku
suka banget liat bintang.” Akunya mantap.
“Dan
makin gelap langit itu, binar gemintang pun akan semakin indah. Dan sebetulnya masih ada banyak lagi
keindahan lain yang bisa kita nikmati saat gelap. Kunang-kunang dan kembang
api, misalnya.” Aku memandang wajahnya lebih lekat.
Dia
tak langsung merespons. Hening menyela pembicaraan kami. Kulihat gadis itu
tertunduk dalam.
“Aku
rasa mulai sekarang aku nggak akan takut lagi sama gelap, tapi kabar buruknya
adalah...” gadis itu menundukkan wajahnya
Aku
bersabar menunggunya menuntaskan kalimatnya.
“Aku yakin nggak akan takut gelap lagi, tapi
masalahnya, sekarang aku harus menghadapi ketakutan yang lebih besar.”
Gadis
itu melepaskan tanggannya yang ternyata masih ada dalam genggamanku.
Aku
menangkap sesuatu yang aneh dari ucapannya. Kuperhatikan dia memutar badannya
membelakangiku dan berjalan sendiri ke dalam rumah tanpa sedikit pun menoleh ke
arahku. Aku mengikutinya tanpa banyak bertanya.
“Aku
masuk dulu ya? Met istirahat ya, A!” Aqeela melambaikan tangan tepat di depan
wajahku. Wajahnya terlihat ragu.
Sekarang
aku yang tak langsung merespons. Sesuatu dalam kepalaku meminta untuk dipertimbangkan.
Sesaat
setelah Aqeela membalik badan, aku menarik sikut gadis itu dan membuat posisi
kami kembali berhadapan.
“Aqeela.”
Aku menatap ke dalam bola matanya.
“Mulai
dari sekarang aku akan berusaha jadi kakak terbaik untukmu.” Aku
bersungguh-sungguh.
Aqeela
mengernyit sambil menatap ke dalam mataku. Aku merasa ada yang tak beres dengan
sorot mata gadis itu.
Gadis
itu masih menatap ke dalam mataku. Aku tak kuasa lagi mengendalikan diriku agar
tak melakukan ini. Sebuah kecupan kudaratkan di keningnya yang mulus.
“Sekarang
tidurlah! Besok kamu harus kuliah kan?”
Kulihat
Aqeela terbelalak. Aku salah tingkah dibuatnya. Lalu aku meniup sepasang mata yang
agak sipit itu secara spontan.
“Jangat
melototin aku kayak gitu! Aku gemas melihatnya,” kataku salah tingkah.
“Astaghfullah...!”
gadis itu terperanjat dan mundur
selangkah. Suaranya terdengar aneh di telingaku.
Gadis
itu menatapku tepat di manik mata. Ada nada tidak suka yang begitu kentara dari
tekanan suaranya. “Kita ini sodara! Aa gak lupa itu kan?” Pelupuk mata gadis
beralis tipis itu berkaca-kaca.
“Kenapa?
Apa seorang kakak gak boleh nyium kening adiknya? Bukankah itu biasa?” aku
mencari pembenaran atas tindakanku.
“Aku
melakukannya karena kamu adikku. Apa jangan-jangan...,” kalimatku mengambang.
Aku merasa tak ada padanan kata
apa pun
yang tepat untuk menyempurnakannya.
***
Sejak
malam itu, Aqeela terus menjaga jarak denganku. Bahkan dua hari ini Aqeela
menginap di kosan seorang teman kuliahnya, aku merasa terjebak di ruang hampa. Ketiadaan
Aqeela di rumah ini membuat segala sesuatu tidak menarik lagi. Pikiranku kacau
hingga pekerjaan di kantor pun ikut berantakan.
Hari
ini aku sengaja lembur. Kalau bisa aku tidak ingin pulang, karena kembali ke
rumah sama saja dengan menjebloskan diri ke dalam ruang hampa. Sangat menyiksa
dan menyesakkan. Tapi sayangnya ada banyak alasan yang membuatku harus selalu
pulang ke rumah.
Selang
beberapa jam, aku sudah tiba di depan rumah. Sesuai dugaan. Kesepian langsung
menyambutku. Dengan perasaan layu aku membiarkan diriku menyusuri lorong hampa
yang terbentang di hadapanku.
Aku
menghentikan langkah selama beberapa jenak begitu tiba di depan kamarnya. Aku
rindu.
***
“Met
pagi...!”
Suara
jernih itu langsung menyambut begitu aku
tiba
di ruang makan.
Aku
merasa jantungku sempat berhenti bekerja saat gadis itu menyapaku. “Kamu udah
pulang?” tanyaku dengan perasaan terkejut, canggung, bingung, dan bahagia yang
berpadu jadi satu.
“Kemarin
sore.” Jawabnya singkat.
“Semalam
Aa pulang jam berapa?” tanya gadis itu dengan tenang. Seolah tidak ada yang
terjadi. “Aku pasti udah tidur pas Aa pulang.” Gadis berkacamata itu mengulas
senyum.
“Thanks for coming back,” kataku setulus
hati.
“Sebenarnya
aku mau sekalian pamit, A. Aku nggak bisa tinggal di sini lagi. Aku mau kos lagi
sama temen aku,” jawabannya di luar dugaanku sambil terus mengaduk kopi yang
ditatapnya dengan tatapan kosong.
“K-ke...
kenapa? Apa karena aku? Kita bisa bicarakan dulu baik-baik kan?” kataku
buru-buru.
“Sebetulnya,
aku pergi bukan karena siapa-siapa. Aku pergi untuk diriku sendiri.”
Aku
makin terperangah. Aku bergeming membiarkan otakku mencerna apa yang baru saja
dikatakannya.
“Aku
yang butuh jarak ini,” lirihnya lembut. Aku melihat dia berusaha menyembunyikan
matanya yang berkaca-kaca.
Selama
beberapa saat aku tak mendengar suara apa pun selain debar jantungku sendiri yang
beradu dengan dentingan sendok yang berputar menyentuh dinding cangkir kopi
yang diaduknya dengan irama yang tetap.
Tak
lama kemudian gadis itu menyodorkan secangkir kopi itu ke depan wajahku.
“Semoga
rasanya senikmat biasanya.” Senyumnya begitu dingin.
Suara gadis itu terdengar lemah dan lembut
saat mengucapkan salam sebelum memutar
tubuhnya dan berjalan meninggalkan
meja makan. Sementara aku beku. Aku
sendiri tak yakin dengan apa yang sedang
berputar-putar di pikiranku saat ini.
Kusaksikan
punggung gadis itu terlihat semakin kecil hingga menghilang dari pandanganku. Meninggalkanku
yang membeku dengan sejuta tanda tanya.
TAMAT
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus"Aku takut monster berkedok manusia" <- Kalimat yang ini 'jleb' banget. Kalo aku jadi lakinya pasti langsung 'kena' jantungku. Keren Mbak Deti. Bisa konsisten ngisi blog.
BalasHapusmakasih ya udah sempatkan baca. makasih juga buat komentar dan tanggapannya.
BalasHapusaamiin. mudah2an ke depannya bisa lebih konsisten lagi. :)
bagusss, detailnya dapet. stylistik metafor untuk tulisan berikutnya lebih ngangkat ya....
BalasHapusAlhamdulillah.... Makasih ya... Abah udah mampir dan nyicipin secangkir kopi terbaik di sini. Hehe...
BalasHapusSiap, Bah! InsyaAllah Deti belajar terus. Mudah2an Deti bisa buat tulisan yg lebih baik dr ini. Mohon bimbingnannya ya, Bah...! ^--^
Alhamdulillah.... Makasih ya... Abah udah mampir dan nyicipin secangkir kopi terbaik di sini. Hehe...
BalasHapusSiap, Bah! InsyaAllah Deti belajar terus. Mudah2an Deti bisa buat tulisan yg lebih baik dr ini. Mohon bimbingnannya ya, Bah...! ^--^